Ilusi
Semakin ke sini kok bahagia itu mesti dikaitkan sesuatu. Merasa ada yang kurang kalau gak ngelakuin sesuatu. Kadang mencari kenikmatan dari sesuatu…
Aku Kadika. Kepalaku jarang sepi ide, dan tanganku gatal kalau ide cuma berhenti jadi catatan. Sejak 2013 aku ngubah tulisan jadi kelas, kelas jadi sekolah, dan kebutuhan sendiri jadi puluhan plugin yang dipakai orang. Sekarang, giliran idemu.
Kebanyakan bukan karena kurang pintar atau kurang usaha. Cuma ada satu sambungan yang belum nyambung.
Ilmunya ada, pengalamannya banyak. Yang belum ada: bentuk yang bisa dibeli orang. Di sini aku senang banget ngulik, karena ini core skill-ku.
Biasanya beres lewat: kelas, ebook, programOrang mampir, baca sebentar, lalu pergi. Seringnya bukan produknya yang salah, tapi ceritanya belum nyampe ke hati pembaca.
Biasanya beres lewat: copy landing page, email, storytellingPadahal satu tulisan bisa jadi pintu masuk penghasilan, asal di belakangnya ada checkout, member area, dan alur yang jalan sendiri.
Biasanya beres lewat: web custom + sistem DigithicBiaya bulanan jalan terus, data pembeli bukan punyamu, fitur dibatasi. Aku pernah di posisi itu, makanya aku bikin alatnya sendiri.
Biasanya beres lewat: sistem jualan di dotcom sendiriKampus, komunitas, sampai perusahaan. Aku bawain materi yang bikin orang pulang dengan sesuatu yang bisa langsung dipraktikkan.
Biasanya beres lewat: seminar, workshop, trainingIni masalah yang paling aku pahami, hehehe. Kadang yang dibutuhin cuma satu sesi bedah ide biar ketahuan mana yang layak dikejar sekarang.
Biasanya beres lewat: sesi bedah ide + peta prioritasBiasanya kamu butuh penulis, desainer web, developer, dan orang marketing. Lalu kamu sibuk jadi penerjemah di antara mereka, dan idemu pelan-pelan berubah bentuk.
Aku kebetulan polymath: nulis, bikin produk, ngoding, dan jualan, semuanya pernah dibayar. Jadi idemu gak putus di tengah jalan, dan kamu cukup cerita sekali.
Riset pasar, bedah ide, nentuin mau jadi apa dan buat siapa.
Tulisan, copy, dan narasi yang bikin orang ngerasa "ini aku banget".
Kelas, ebook, asesmen, program. Sesuatu yang bisa dibeli dan dipakai.
Web, checkout, member area, otomasi. Biar jalan meski kamu lagi tidur.
Hampir semua ini lahir dari ide spontan yang aku seriusin. Sebagian buat diriku sendiri, sebagian buat orang lain. Semuanya masih jalan sampai sekarang.
Berawal dari kelas nulis kecil, sekarang jadi sekolah content writer yang berbadan hukum PT Impactful Writing Indonesia. Kurikulum, kelas, sertifikasi CIW dan CIC, sampai sistem belajarnya aku rancang sendiri.
Plugin all-in-one buat jualan dari blog: checkout, member area, affiliate, kupon, langganan. Lahir karena aku capek bayar platform orang.
Puluhan plugin dan add-on. ArtiThic nulis artikel otomatis dengan AI, PayThic bikin pembayaran aktif sendiri dari notifikasi HP, VidThic, SertiThic, UnlockThic, dan teman-temannya.
Skills School dengan tagline Master Skills, Master Life. Lengkap dengan asesmen Skill Maps dan Monetizing Maps yang aku bangun dari nol.
Dari orang yang dulu gak suka baca, jadi penulis yang ebook-nya diunduh puluhan ribu kali.
File Excel HPP bisnis dimsum keluarga aku ubah jadi kalkulator online yang bisa dijual, lengkap dengan strategi monetisasi dan landing page-nya.
Rasa penasaranku soal bakat dan kepribadian aku ubah jadi alat ukur yang bisa dipakai siapa aja buat kenal dirinya lebih dalam.
Halaman custom yang ringan dan rapi, dibangun di WordPress dengan tema Digithic Lite tanpa page builder. Halaman yang lagi kamu baca ini salah satunya.
Serius. Tapi 2013 aku iseng mulai ngeblog, lalu keterusan. Dari situ datang juara lomba blog, tawaran kerja yang gak pernah aku lamar, sampai gaji dua kali lipat dari gaji pertamaku. Semua karena satu skill yang dulu aku hindari.
Tahun 2014 aku mulai serius mengenali diri. Ternyata aku ISTP dan sanguinis: spontan, gampang antusias, dan gak betah kalau ide cuma diomongin. Sejak itu aku berhenti melawan sifat itu dan malah menjadikannya mesin kerja.
Jadi kalau kamu lihat aku lompat dari nulis ke ngoding, ke ngajar, ke bikin asesmen, itu bukan gak fokus. Itu caraku nyambungin titik-titik yang orang lain belum lihat. Dan biasanya, di sambungan itulah masalahmu selesai.
Kenali perjalananku lebih dekat →Soal bisnis, psikologi, menulis, dan hal-hal yang lagi bikin aku penasaran minggu ini.
Semakin ke sini kok bahagia itu mesti dikaitkan sesuatu. Merasa ada yang kurang kalau gak ngelakuin sesuatu. Kadang mencari kenikmatan dari sesuatu…
Menulis bisa membawa kebahagiaan tersendiri. Bukan apa-apa. Menulis itu dapet dua kebahagiaan. Dari dalam dan luar. Dari dalam itu sendiri. Kita udah…
Kedua kalinya bekerja dengan sistem remote. Sebenernya tau ini dari Mas Fikry. Yang meremote tim Kirim.Email di beberapa kota. Makasih mas. Jadi…
"Apaan tuh timeline?" Kok kayaknya gak asing" Tanyamu. Emang gak asing haha. Hampir semua sosial media ada timelinenya. Ya kalau bahasa mudahnya…
Pertama kalinya aku baca buku ini. Ya, judulnya Manage Your Day to Day: Kembangkan Rutinitas, Kontrol Teknologi, Tentukan Fokus, dan Asah Kreativitas.…
"Kenikmatan itu sesaat. Mudah diraih, mudah hilang..." Begitu penggalan dalam buku The Subtle Art of Not Giving a F*CK karya Mark Manson.…
Kemaren tanggal 4. Aku menyempatkan hadir di event megah. Travelpreneur Mega Class. Gokillll! ... Kenapa? Aku salut dengan tim Java Travel Indonesia.…
Asesmen yang aku bangun ini juga yang aku pakai buat diriku sendiri. Hasil dasarnya gratis, dan sering jadi bahan obrolan pertama kita.
Petakan core skill, skill pendukung, dan identitas skill-mu. Hasilku: Product Maker yang Pandai Menjual.
Petakan skill-ku → LanjutanSetelah tahu skill-mu, lihat jalur uang yang paling cocok, harga yang layak, dan roadmap 90 hari.
Petakan monetisasiku → BakatNiche Navigator, Writing DNA, MBTI Report, dan asesmen lain buat kenal pola pikir alamimu.
Mulai asesmen →Kirim satu pesan: apa yang mau kamu bangun, dan di mana macetnya. Aku baca sendiri. Kalau aku bisa bantu, kita bahas jalannya. Kalau ternyata bukan aku orangnya, aku kasih tau juga.