Bagaimana Menemukan yang Mahal dari Dirimu dan Menyulapnya Menjadi Uang?

B

“Berapa lama kamu terjeda untuk nggak akses Internet?”

Kamu akan menjawab apa?

Mungkin sekarang kamu sedang membayangkan kapan terakhir untuk nggak terkoneksi dengan Internet, iya?

Aku pun demikian, sedang membayangkan,

“kapan yaaa?”.

“Aha! Aku mengingatnya”, ketika internet belum menjadi secanggih sekarang, belum ada smartphone yang se-smart sekarang.

Lebih tepatnya 10 tahun yang lalu. Terkadang aku juga kangen suasana di mana belum banyak distraksi oleh gangguan internet mau pun gangguan dari dalam.

“Maksudnya dari dalam, kak?”

Ya, kadang ada aja pertanyaan muncul, lalu segera membuka Google. Kamu begitu?

Karena kita manusia, kita bisa merespon dengan pilihan kita sendiri. Mau terhanyut dengan aliran derasnya informasi, atau kita menjadi pengendali informasi,

…atau bahkan yang meraup keuntungan dari derasnya arus informasi di era Internet seperti saat ini.

Sesuai judul, aku akan membahas secara mendalam bagaimana menemukan yang mahal dari dirimu menjadi uang?

 

Selamat Datang di Era Informasi

“Kita beralih dari Era Industri ke Era Informasi / Pekerja Berpengetahuan – dengan segala konsekuensinya yang berat.” – Dr. Stephen R. Covey

Kita nggak bisa menghindari kemajuan teknologi, tapi kita bisa menunggangi untuk keperluan pribadi.

Ketika kamu mengetahui caranya, aku penasaran se-antusias apa, ya? Hmm…

Dulu pernah nggak terpikir akan bekerja apa? Jujur, ketika SD, aku nggak mau menjadi buruh pabrik.

Mohon maaf, bukan bermaksud apa-apa dengan profesi itu. Aku hanya melihat pamanku ketika bekerja di pabrik, nggak dapet waktu untuk istirahat, meskipun gaji yang didapat cukup besar.

Setelah kutau, 20 tahun yang lalu yang mendominasi pekerjaan yakni era industri. Dimana banyak pabrik-pabrik memproduksi. Dari industri perminyakan hingga industri tekstil.

Namun, seperti penulis laris 7 Habits katakan, kita sekarang sedang beralih dari era industri ke era informasi, dengan konsekuensi yang berat.

“lho, kok gitu?”

Mungkin dulu, para orangtua dan paman atau keluarga kita bekerja, ketika lelah, yaudah mereka istirahat. Tapi, bagaimana dengan sekarang?

Katakanlah pekerja social media specialist. Ketika rehat, apakah akan benar-benar rehat atau rebahan sambil mainin hape?

Aku meragukan itu. hehehe…

Kita terkadang suka bingung mana informasi yang penting untuk kita serap, mana yang perlu kita buang.

Tapi, kabar baiknya di sisi ganasnya era informasi yang terkadang sulit membedakan mana hoax, mana valid. Kita masih bisa melihat peluang di balik itu.

Yakni, menjadi pawang atas derasnya informasi tersebut.

“Dih, Kadika, dikira pawang hujan yang viral kemarin itu kali, ya?”

Nah, kalau itu pawang hujan, ini pawang informasi. Karena banyak yang mengalami kebingungan, mana informasi yang perlu diserap, mana yang perlu dibuang.

Maka, perlu ada seseorang yang meramu dan meracik informasi tersebut menjadi sebuah pengetahuan praktis yang bisa dinikmati manusia di era informasi ini.

Tidakkah kamu yang mengambil salah satu peran ini?

Oke, sekarang kita lanjut, ke…

 

Apa yang Mahal dari Dirimu?

“Apa yang paling mahal dari dirimu, sehingga orang rela bayar mahal untuk itu?”

Mungkin kamu butuh beberapa waktu untuk menyadari dan menjawab pertanyaan di atas.

Dan, mungkin kamu akan terkejut karena selama ini nggak menyadari sesuatu yang mahal darimu.

Keahlian atau pengetahuan tentang apa yang orang lain mau sukarela membayarmu bahkan mahal?

Yang menurutmu, “ah, ini biasa saja”, bahkan menganggap nggak ada nilainya.

Ingat! Kita dilahirkan dengan segala potensi, hanya aja kita butuh pengetahuan untuk melihat dan mengasah potensi yang kita miliki.

Setiap orang itu unik, dari sidik jari aja Tuhan menciptakan manusia tak ada yang sama.

Ada pun cara termudah menemukan yang mahal dari diri kita, yang mungkin kita sendiri nggak menyadari adalah, kita sering kali mendapatkan pujian atas hasil kerja kita.

Lalu, ketika kita menjawab atau menyelesaikan permasalahan, ada kepuasan yang mendalam dalam diri kita.

Juga bisa, ketika orang lain ingin membayarmu karena hasil yang telah kamu lakukan.

Sepele?

Tapi, nyatanya aku bisa berkarier di industri writing ini berawal dari kesenanganku membuat tulisan seperti yang kamu baca saat ini.

Aku menyebutnya impactful writing, tulisan yang berdampak. Selain tulisan ini kubuat dengan sungguh-sungguh, aku meniatkan yang membacanya pun mendapatkan manfaat yang banyak.

Lanjut, nih?

“Lanjut, dong!”

Oke… lanjuuut…

 

Kenapa Era Informasi = Era Komunikasi?

“Era informasi adalah era komunikasi” ~ Alvin Toffler, Penulis dan Futuris.

Beberapa hari yang lalu aku sempat mem-twit seperti ini kira-kira,

Apa yang kamu dapat dari kutipan twit-ku?

Ya, sambil kamu menjawabnya dalam hati, aku lanjut, ya?

Bisa menulis bukan saja untuk penulis, melainkan kita yang aktif di internet. Karena di Internet ada dua cara kita berkomunikasi, melalui tulisan dan lisan.

Tapi, sepengamatanku, tulisan menjadi mendominasi. Karena lihat saja kolom komentar, pasti cara kita merespon pun melalui tulisan, bukan?

Nah, seperti yang Alvin katakan di atas, “era informasi adalah era komunikasi”. Dimana kita kalau ingin menguasai era informasi, kuasailah komunikasi.

Menariknya ada buku (Digital Body Language) yang membahas secara mendalam betapa pentingnya kita memiliki keterampilan menulis di era digital ini.

Bukan untuk menjadi penulis, melainkan untuk menambah satu skill, yakni komunikasi digital.

Kalau era informasi, atau era internet ini kita nggak bisa berkomunikasi, alias kita nggak bisa menulis. Ya, kita mungkin hanya menjadi penikmat, penonton, bahkan pengonsumsi saja.

Tapi, ketika kita mahir komunikasi digital, kita akan menjadi pawang informasi atau pemimpin dari derasnya arus informasi.

Atau bahasa kerennya KOL (Key Opinion Leader), meskipun menurutku jauh dari itu. Tapi biar kamu kebayang aja. haha.

Jadi, untuk bisa menguasai era informasi, kamu perlu menguasai komunikasi. Lebih tepatnya adalah komunikasi via tulisan.

Wong, kita aja kalau liat youtube kalau ada subtitlenya tetap kita baca, kan? Volumenya kita kecilin. Hehe.

Betapa sangat berpengaruhnya kata-kata atau tulisan di era internet sekarang ini.

Oke, lanjut, ya…

 

Investasi pada Pengetahuan dan Keahlian

“If a man empties his purse into his head, no man can take it from him. An investment in knowledge pays the best interest.” ~ Benjamin Frankin

Paham nggak yang dikatakan Bejamin Frankin?

Sederhananya begini, ketika kita mengeluarkan untuk membeli pengetahuan, katakanlah bentuknya ada buku bacaan.

Ketika kita menyisihkan uang untuk membeli buku, lalu buku-buku itu bisa kita kemas menjadi pengetahuan lagi dengan diracik oleh pengalaman, pemahaman, dan pemikiran kamu.

Yang mana nilainya juga bisa besar.

Bayangin ketika kamu setahun membeli sebesar 2juta, tapi setahun itu kamu bisa menghasilkan lebih dari 2 juta. Aku yakin itu.

Aku saja pernah menghabiskan uang untuk membeli buku di angka 9 juta/tahun, dan aku menghasilkan dari pengetahuan yang aku kemas, lebih dari 100 juta.

Karena aku mencapai 100 juta pertama dalam 7 bulanan. Hehe… alhamdulillah atas izin Allah.

“Apa yang Mahal dari Diri Kadika?”

Mungkin kamu terbesit bertanya itu, iya? Atau nggak?

Ya, kalau nggak, ya nggak aku lanjutin. Atau lanjutin aja?

Oke, lanjutin aja. hehe.

Yang mahal dari Kadika, adalah pengetahuan dan pengalaman content writing dan copywriting.

Yang mahal banget dari Kadika, adalah email marketing. Karena dari sinilah aku memulai karierku di internet.

Tapi, yang mahal dari semuanya adalah aku menemukan dan mengubahnya menjadi uang. Dan itu sudah terdokumentasi pemikiranku dalam E-modul Nulis Aja.

Yang terus aku lakukan adalah belajar dari buku, belajar dari pengalaman orang lain, belajar dari konten seseorang.

Karena investasi yang ROI-nya (return of invesment) tinggi adalah ke diri sendiri dalam bentuk pengetahuan dan keahlian.

Karena itu akan sangat memengaruhi karier dan kehidupan.

Karena ketika kamu memiliki pengetahuan khusus, kamu akan memiliki…

 

Pengetahuan Khusus adalah Potensi Sumber Penghasilan?

“The New Source of Power is not money in the hands of the few, but information in the hands of many” John Naisbitt, Author.

Masih berkaitan dengan era infomasi, yang sebenarnya aku menulis ini, ketika aku menemukan kutipan di atas.

Sumber daya baru bukanlah uang yang banyak di tangan, tapi informasi di tangan yang banyak. Kira-kira begitu kalau diterjemahkan. Haha.

Tapi, aku ingin menambahkan dari pengalaman, yang sebenarnya informasi itu menjadi power (daya) dan sumber daya baru, adalah pengetahuan khusus.

Kamu tau Marie Kondo? Penulis dari konsep KonMari Method, yang mengajarkan untuk bersih-bersih dan menata ruang rumah?

Pengetahuan khusus yang dimiliki Marie Kondo membuat ia menjadi seperti sekarang.

Mungkin kalau yang nggak tau letak mahalnya dari seorang Marie Kondo, akan mencibirnya “halah, beres-beres rumah, doang”.

Tapi, karena ia juga piawai mengomunikasikan konsep tersebut, makanya buku udah terjual jutaan eksemplar, bahkan buku tersebut juga menginspirasi orang lain untuk menulis buku yang se-genre.

Keren ya?

Kerena kamu mulai mengenali apa yang mahal dari dirimu, kamu perlu mengenali lebih dalam, dengan pertanyaan,

“pengetahuan khusus apa yang aku miliki, yang ketika aku tulis, orang lain membutuhkannya?”.

Nah, untuk menjawab itu emang nggak langsung ke jawab sekejap, perlu proses.

“Apa itu Kadika?”

Prosesnya adalah menulis saat ini juga, karena ketika kamu menulis, kamu akan mengeluarkan potensi terbaikmu.

Dirimu sedang menghubungkan antara titik pengetahuan dengan titik pengalaman yang membentuk pemahaman yang mahal. Karena yang mahal dari seorang penulis adalah pemahamannya.

Tentu saja, untuk bisa menulis (tulisan ini) ini, aku butuh beberapa buku, diskusi, hingga inkubasi dari 7 tahun pengalaman.

“halah, nulis gini doang gue juga bisa”. Tentu saja itu hanya omong kosong. Hehe.

Seperti yang kukatakan dalam twit, ya udah nulis aja, selayaknya kita berkomunikasi dengan orang lain. Nah, hanya saja kita berkomunikasi via tulisan.

Nggak mudah untuk di awal-awal, tapi lepaskan saja keraguan itu. Karena kalau menulis terlalu mikirin kata-katanya apa, malah nggak ketulis-tulis, deh.

Kalau pun belum terjawab, kamu perlu mengeksplorasi diri dengan memperbanyak bahan bacaan yang relevan dengan dirimu.

Misalnya kamu suka banget analisis saham, tapi kamu kesulitan untuk mengomunikasikannya dalam bentuk tulisan, itu artinya kamu perlu banyakin bacaan yang serupa.

Dan, kamu akan merasa takjub dengan dirimu sendiri, ketika kamu mengetahui apa yang mahal dari dirimu.

“terus, setelah aku mengetahui apa yang mahal dari diriku dan pengetahuan khusus yang aku miliki, aku perlu ngapain Kak?”

Pertanyaan yang luar biasa, haha… keren nih udah menyadari perlu ngapain aja.

Teruslah membaca kamu akan segera mengetahuinya.

 

Satu Skill di Era Informasi?

Kamu udah menyadari kalau sekarang ini kita berada di era informasi, dan kamu punya pilihan bukan untuk menjadi penonton, penikmat, atau pun pengonsumi saja.

Kamu ingin menjadi pemimpin, ingin menjadi pawang dari derasnya arus informasi.

Satu skill yang akan membuatmu menjadi pemimpin atau bahkan menjadi sumber daya penghasilan yang baru untukmu.

Adalah pengemasan.

“maksudnya gimana tuh, Kak?”

Oke, ku-akan menjelaskan dengan mudah. Kamu pasti tau dong ayam KFC dan ayam McD?

Apa yang bikin beda? padahal kan sama-sama ayam kripsi, sama hal-nya dengan Sabana, Sogil, iya nggak?

Terus apa yang membedakan?

“ya, brand-nya dong”.

Ya, itu salah satunya, tapi yang membedakannya adalah bagaimana mereka mengemas atau memberikan kemasan dari ayam goreng itu yang bikin menarik.

Mulai dari resep hingga cara penyajian dan kemasannya sangat berbeda.

Begitu juga seorang pawang informasi, aku nggak ingin menyebutmu sebagai penulis, mungkin aja kamu nggak ingin menjadi penulis. Hehe.

Keterampilan yang perlu kita kuasai di era informasi ini, adalah bagaimana kita mengemas informasi dari pengetahuan khusus yang kita miliki dan sesuatu yang mahal dari diri kita.

Mungkin di luar sana ada artikel yang membahas secara serupa, tapi aku tetap percaya diri bahkan berani mengklaim, inilah yang berbeda dari kebanyakan.

Ketika kamu mampu menyajikan informasi dengan kemasan yang menarik, dan isinya pun ‘lezat’, kuyakin sekali akan banyak orang yang menyukainya.

“Ta-tapi…

…aku nggak bisa menulis, Kak.”

No, bukan nggak bisa menulis, tapi belum terbiasa menyusun kata-kata menjadi sebuah kalimat yang memiliki makna atau pesan.

Sebab seperti presuposisi NLP, “we cannot not communicate”. Kita nggak bisa nggak berkomunikasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita nggak ngomong, tapi tubuh (gesture) kita bisa merespon.

Dalam konteks digital, mungkin kamu nggak komen atau like, tapi saved, itu juga bagian dari komunikasi, kalau kamu membutuhkan informasi tersebut.

Atau nggak komen, nggak like, nggak saved, nggak melakukan interaksi apa pun, tapi kehadiranmu masuk dalam matrix engagement.

Nah, sekarang bagaimana mengubah yang mahal dari dirimu menjadi uang?

Yaudah, Nulis Aja.

“lho, simple banget?”

Teruslah membaca, ya…

 

Mau Menghasilkan Uang di Era Informasi? Yaudah Nulis Aja

Pengetahuan apa pun yang mahal darimu berpotensi menghasilkan uang, atau bahkan bisa menjadi tulang punggung.

Aku mengemas pengalaman selama 10 tahun terakhir berkecimpung di dunia wiriting, berbagai macam cara telah kucoba. Dan kuracik menjadi sebuah pengetahuan praktis yang bisa langsung dipraktikkan.

Nggak tanggung-tanggung yang bisa kami hasilkan, yakni 100 juta. Karena memang ketika aku menseriusi pengetahuan spesifik yang aku miliki, aku bersungguh-sungguh mengubahnya menjadi uang.

Ternyata menghasilkan uang juga. Dan, kalau kamu ingin tau lebih dalam, dalam nuliso.com adalah sebuah rahasia yang kulakukan selama di impactful writing hingga hari ini.

Bukan saja aku buka-bukaan cara, juga buka-bukaan dapurku. Wadaaw.

Bayangin aja ketika kamu membaca Nulis Aja – 7 Cara Menghasilkan Uang dari Tulisan, kamu telah menambahkan pengalaman 10 tahun untuk menghasilkan uang dari tulisan ke dalam hidupmu.

Seperti kata Seneca, “ketika kita membaca buku, kita telah menambah pengalaman penulis, ke kehidupan kita.”

Kenapa aku menamai program ini nuliso? Secara kebetulan aku mendapatkan domain cantik ini. Karena nggak mudah untuk mendapatkan domain singkat dan mudah diingat.

Nulis + opportunity = nuliso. Artinya ketika kamu bisa menulis, akan ada banyak pel(uang) yang menghampiri.

Ketika kamu mengetahui yang mahal dari dirimu, coba saja komunikasikan dalam bentuk tulisan.

Mungkin nggak akan langsung ada yang membeli atau mengapresiasi, tapi kehadiranmu diketahui.

Mungkin ketika kamu menerapkan Nulis Aja, nggak serta-merta langsung resign dari pekerjaan sekarang, atau meninggalkan aktivitas yang saat ini kamu jalani.

Melainkan menjadi supporting aktivitas kamu saat ini, lama-lama kamu akan menyukai menulis. bukankah menyenangkan bisa melalukan hal lain di luar hal aktivitas utama dan menghasilkan uang?

Bagikan tulisan ini kepada mereka yang membutuhkan, mudah-mudahan jadi kebaikan untuk kita semua. Aamiin.

 

Salam,

Dwi Andika Pratama
Founder and Mentor ImpactfulWriting.com

About the author

Dwi Andika Pratama

Founder ImpactfulWriting.com | Professional Impactful Writer | Mentor at CertifiedImpactfulWriter.com

1 comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Penulis Blog Ini

Dwi Andika Pratama sapaan akrabnya Kadika. blogger sejak 2012. Menjuarai lebih dari 10x Kompetisi Blog. Penikmat Buku Pengembangan Diri dan Marketing. selengkapnya…

Paling Dicari

Kategori

Part of BloggerHub.id