Kapan Harus Berhenti Mencoba dan Mulai Fokus pada Satu Pilihan? Lompat ke konten

Kapan Harus Berhenti Mencoba dan Mulai Fokus pada Satu Pilihan?

Profesional muda memilih satu buku catatan di antara beberapa pilihan di meja kerja

“There is nothing so useless as doing efficiently that which should not be done at all.”

Peter F.

Drucker, The Effective Executive

Kamu lagi menimbang dua tawaran kerja, beberapa ide usaha, atau kursus yang kelihatannya sama-sama menarik, lalu bingung kapan harus berhenti mencoba dan mulai memilih?

Kadika pernah susah membedakan mana kesempatan yang layak dicoba dan mana yang cuma bikin perhatian kebagi.

Rasanya sayang melepas satu pilihan, apalagi kalau kamu belum yakin pilihan lain bakal berhasil.

Padahal, terus mengeksplorasi tanpa batas juga punya harga, mulai dari waktu yang habis sampai hasil kerja yang gak pernah benar-benar matang.

 

Kapan Harus Berhenti Mencoba dan Mulai Fokus?

Seseorang menimbang pilihan karier di meja kerja sebelum menentukan fokus
Menentukan fokus dimulai dengan membedakan rasa ingin tahu dan kebutuhan mengambil keputusan.

Berhenti mencoba bukan berarti kamu gagal atau gak punya rasa ingin tahu.

Artinya, kamu mulai memakai hasil eksplorasi untuk menentukan langkah berikutnya, bukan terus mengumpulkan kemungkinan baru.

Misalnya, kamu tertarik pindah ke bidang desain produk dan udah mencoba kelas singkat, mengerjakan satu proyek kecil, serta ngobrol dengan dua orang yang bekerja di bidang itu.

Kalau masih ada pertanyaan penting yang belum terjawab, eksplorasi tambahan mungkin berguna.

Namun, kalau kamu terus mengambil kelas baru tanpa pernah membuat proyek yang lebih serius, kegiatan mencoba bisa berubah jadi cara halus untuk menghindari keputusan.

Drucker mengingatkan bahwa melakukan sesuatu dengan efisien gak banyak gunanya kalau hal itu memang gak perlu dilakukan.

Jadi, pertanyaannya bukan cuma apa yang menarik buat kamu, tapi juga apa yang layak mendapat waktu dan tenaga paling banyak sekarang.

Fokus bukan keputusan untuk selamanya, melainkan pilihan sadar untuk memberi satu arah kesempatan berkembang selama periode tertentu.

Kamu tetap boleh berubah pikiran nanti, setelah punya bukti yang lebih kuat daripada rasa takut atau rasa penasaran sesaat.

 

Eksplorasi Udah Memberi Data, Bukan Cuma Rasa Penasaran

Catatan dan proyek kecil yang membantu menguji pilihan karier
Eksperimen kecil bisa memberi gambaran nyata tentang pekerjaan yang sedang kamu pertimbangkan.

Eksplorasi yang sehat seharusnya menghasilkan informasi yang bisa dipakai untuk mengambil keputusan.

Setelah mencoba sebuah bidang, kamu mungkin tahu tugas hariannya, bagian yang bikin bersemangat, bagian yang terasa berat, dan kemampuan apa yang masih perlu diasah.

Kalau kamu cuma punya daftar konten yang ditonton dan kursus yang disimpan, tapi belum pernah melakukan tugas nyata, datanya mungkin belum cukup.

“Tapi kan aku takut memilih sebelum benar-benar tahu semuanya?”

Kamu gak harus tahu semuanya untuk mulai berkomitmen, karena pengalaman langsung sering memberi jawaban yang gak bisa didapat dari membaca atau membandingkan saja.

Bill Burnett dan Dave Evans menjelaskan dalam buku Designing Your Life bahwa kita bisa menguji kemungkinan karier lewat eksperimen kecil, seperti percakapan dengan orang yang menjalani pekerjaan itu atau mencoba proyek terkait.

Eksperimen kecil membantu kamu melihat kondisi sehari-hari, bukan cuma membayangkan jabatan yang terdengar keren.

Contohnya, sebelum memutuskan jadi pekerja lepas, coba selesaikan satu proyek berbayar kecil sambil tetap bekerja.

Catat berapa lama pengerjaannya, bagian yang kamu nikmati, cara klien memberi masukan, dan apakah ritme kerja itu cocok dengan hidupmu.

Kalau Kadika boleh menyarankan, tetapkan batas eksperimen sejak awal, misalnya tiga percakapan, satu proyek percobaan, dan empat minggu untuk mengumpulkan informasi.

Tanpa batas, eksplorasi gampang terasa produktif padahal kamu cuma menunda memilih.

Kadika pernah bikin spreadsheet dengan banyak tab untuk menimbang satu pilihan, lalu tetap gak mengirim lamaran, hehehe.

 

Tanda Bahwa Kamu Perlu Berkomitmen

Profesional menyusun prioritas kerja mingguan di buku agenda
Prioritas yang jelas membantu mengubah eksplorasi menjadi tindakan.

Ada beberapa tanda praktis yang bisa membantumu menilai apakah waktunya mengurangi eksplorasi.

  • Kamu udah melakukan beberapa percobaan nyata dan mulai memahami pekerjaan hariannya.
  • Pertanyaan yang tersisa lebih banyak soal rasa takut daripada kekurangan informasi.
  • Kamu terus mengulang riset yang sama, tetapi keputusan dan tindakanmu gak berubah.
  • Pilihan yang sedang kamu jalani gak lagi mendekatkanmu pada tujuan karier yang penting.

Satu tanda saja belum tentu berarti kamu harus langsung berhenti, tapi beberapa tanda yang muncul bersamaan layak diperhatikan.

“Kalau aku fokus ke satu pilihan, nanti peluang lain keburu hilang?”

Memilih memang punya biaya peluang, karena waktu untuk satu pilihan gak bisa dipakai penuh untuk semua pilihan lain.

Namun, membiarkan seluruh pilihan tetap terbuka juga menghabiskan tenaga dan membuat perkembanganmu susah terlihat.

Kamu bisa membaca lebih jauh soal biaya peluang dalam keputusan karier supaya pertimbangannya gak berhenti di rasa takut kehilangan.

Misalnya, kamu mendapat kesempatan memimpin proyek baru, tapi juga ingin mengambil sertifikasi tambahan dan mulai usaha sampingan.

Kalau waktu luangmu cuma enam jam seminggu, memilih satu prioritas utama bukan berarti dua hal lain gak penting, melainkan mengakui bahwa kapasitasmu terbatas.

Greg McKeown membahas pentingnya memilih hal yang paling berarti dalam buku Essentialism, termasuk keberanian berkata gak pada hal yang gak cocok dengan prioritas utama.

Di usia karier yang sedang berkembang, komitmen juga bisa jadi cara membangun bukti kemampuan yang lebih kuat.

Tiga bulan mengerjakan proyek dengan hasil yang jelas biasanya memberi bahan cerita yang lebih konkret saat wawancara daripada tiga bulan mencoba lima hal tanpa hasil selesai.

 

Cara Menentukan Pilihan Tanpa Menebak-Nebak

Seseorang membandingkan pilihan karier dengan tabel sederhana
Membandingkan pilihan berdasarkan bukti membuat keputusan terasa lebih terarah.

Kamu gak perlu menunggu keyakinan seratus persen untuk menetapkan arah kerja.

Coba bandingkan pilihan berdasarkan hal yang bisa diamati, bukan hanya berdasarkan nama jabatan atau bayangan suksesnya.

  1. Tentukan tujuan enam sampai dua belas bulan ke depan, seperti mendapat portofolio, pindah bidang, atau meningkatkan pendapatan.
  2. Pilih dua atau tiga kriteria yang penting, misalnya kesempatan belajar, kebutuhan pasar, dan kecocokan dengan kondisi hidupmu.
  3. Beri nilai setiap pilihan dari satu sampai lima berdasarkan bukti yang udah kamu kumpulkan.
  4. Tentukan satu pilihan utama dan tulis alasan yang membuatnya paling masuk akal untuk dicoba sekarang.
  5. Tetapkan masa komitmen dan waktu evaluasi, misalnya menjalankan pilihan itu selama dua belas minggu sebelum menilai ulang.

Angka dalam tabel bukan jawaban ajaib, tapi alat untuk menjelaskan kenapa satu pilihan lebih kuat daripada yang lain.

Kalau dua pilihan nilainya hampir sama, kamu bisa memilih yang paling mudah diuji lebih dulu dengan risiko yang masih sanggup kamu tanggung.

Contohnya, sebelum mengundurkan diri untuk pindah ke bidang pemasaran, kamu bisa mengambil proyek internal, membantu kampanye kecil, atau membuat portofolio berdasarkan kasus nyata.

Langkah begitu membuat keputusanmu bertumpu pada pengalaman, bukan semata-mata perasaan bahwa pekerjaan baru pasti lebih menyenangkan.

Kadika juga menyarankan menulis apa yang harus terjadi agar kamu mengubah keputusan, seperti kondisi kesehatan terganggu, kebutuhan finansial berubah, atau ternyata tugas utama pekerjaan sangat berbeda dari dugaan.

Dengan begitu, evaluasi nanti gak sekadar mengikuti suasana hati setelah satu minggu yang berat.

Kalau kamu masih bingung memilih arah kerja, panduan tentang memilih profesi yang tepat bisa membantumu memeriksa kecocokan dengan lebih terarah.

“Gimana kalau aku salah pilih dan kehilangan waktu?”

Risiko itu nyata, tapi kamu bisa mengecilkannya dengan membuat komitmen berbatas waktu, mengecek kemajuan secara rutin, dan menjaga pilihan untuk menyesuaikan arah.

 

Komitmen Bukan Berarti Mengunci Diri Selamanya

Komitmen sering terasa menakutkan karena kita membayangkannya sebagai janji untuk bertahan apa pun yang terjadi.

Padahal, komitmen yang sehat punya arah, durasi, dan ukuran kemajuan yang jelas.

Misalnya, kamu berkomitmen melamar sepuluh posisi di bidang analisis data dalam delapan minggu sambil membangun dua proyek portofolio.

Setelah itu, kamu bisa mengecek apakah ada panggilan wawancara, bagian mana yang perlu diperbaiki, dan apakah pekerjaan yang kamu incar masih terasa cocok.

Kalau belum ada respons, belum tentu bidangnya salah, karena CV, portofolio, atau cara mencari peluang mungkin perlu dibenahi.

Namun, kalau setelah beberapa percobaan terukur kamu menemukan pekerjaan hariannya bertentangan dengan kebutuhan dan nilai yang penting bagimu, mengubah arah juga pilihan yang masuk akal.

Jangan menilai keputusan hanya dari apakah hasilnya langsung sukses.

Nilai juga apakah kamu mendapatkan keterampilan, hubungan kerja, dan pemahaman yang bisa dibawa ke langkah berikutnya.

“Kalau aku berubah pikiran, berarti aku gak konsisten dong?”

Konsisten bukan berarti menolak semua informasi baru, tapi menepati proses yang kamu pilih dan jujur saat buktinya menunjukkan arah lain.

Hari ini, coba tulis satu hal yang sedang kamu eksplorasi, bukti apa yang udah kamu dapat, dan berapa lama lagi kamu akan mengujinya sebelum memilih.

Kalau Kadika boleh menitipkan satu pertanyaan, pilihan mana yang pantas mendapat fokusmu untuk dua belas minggu ke depan, dan bukti apa yang ingin kamu lihat setelahnya?

Jawabanmu mungkin belum menghapus semua rasa ragu, tapi setidaknya kamu gak harus terus berputar tanpa tahu kapan waktunya melangkah.

Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.