21DaysWritingChallence: Jangan Pernah Berhenti Belajar

jangan pernah berhenti belajar

Melanjutkan tulisan dari sebelumnya, tapi beda topik.. maksudnya aku melanjutkan 21DaysWritingChallence

Aku pernah merasa.. dimana kondisi ku saat itu.. aku merasa paling tau, paling pintar, paling hebat, padahal itu bukanlah apa apa dibanding dengan kapasitas diriku yang masih secuil.

Bohong banget.. kalau belum pernah merasakan yang namanya level (ngerasa) SUDAH TAHU. Padahal belom bisa apa apa.. (lagi lagi aku berasumsi. Haha) okelah.. (lagi gak ingin buka data.. kalau kamu ada rekomendasi buat baca… sini … biar tak revisi)

Di hari kedua ini.. lagi lagi aku hampir kelupaan untuk menulis blogpost untuk kadikatalk.com. hmm. Rupanya aku mesti lebih membiasakan diri lagi dalam menulis..

Lebih baik merasa bodoh dan terus belajar dari pada merasa pintar dan berhenti belajar. Lebih baik melakukan kesalahan dan memperbaiki dari pada terlalu banyak pertimbangan sehingga jadi kaku dan pecundang.

Aku pun demikian.. pernah merasakan semangat.. juga sedih… karena aku manusia biasa.. bukan seorang yang selalu semangat, selalu bisa bangkit, gak juga.. kadang aku juga ada sedihnya, ada marahnya.

Kesalahan kita berpikir… menganggap orang yang memberikan motivasi atau inspirasi lebih hebat. Padahal gak juga. Cuman lebih dulu melewati perasaan atau kondisi itu.. jadinya bisa memberikan nasihat.

Kalau kata Albert Einstein “masalah tidak akan terpecahkan. Kalau berpikir kita masih sama dengan masalah itu”. Artinya kita mesti meningkatkan kapasitas diri serta merendahkan hati agar ilmu pun sampai ke sanubari. Ahay!

 

Belajar Fleksibel

Sejak aku SMA sampai dengan saat ini. Aku lebih banyak belajar fleksibel.. walaupun terkesan plin plan. Padahal gak! Bedain mana fleksibel mana plin plan (ragu).

Kalau fleksibel mengganti cara agar tujuan tercapai.. kalau plin plan gak melakukan hal apa pun selain gonta ganti pilihan (ragu ragu)

Seperti malam kemaren aku mesti meeting abis magrib… aku gak biasa banget jam sore keluar dan meeting malam.. tapi karena ini udah tanggungjawab ku. Ya aku gak bisa menolak selama aku emang bisa untuk menjalaninya.

Awalnya mager (males gerak). Tapi karena inget kalau ini adalah tanggungjawab pekerjaan. Ya aku mesti menjalani apa yang semestinya dijalani.

Goalnya apa? Bertanggung jawab atas pekerjaan.. meeting hanyalah cara.. walaupun aku sedang mengerjakan pekerjaan kantor. Ya gak masalah selama meeting itu bagian dari pekerjaan kantor kenapa nggak?

 

Belajar Menerima Keadaan

Setelah kita mencoba untuk bersikap fleksibel terhadap keadaan… hal yang paling bisa kita lakukan setelah fleksibel adalah menerima.

Karena dengan menerima kita akan jauh lebih mudah ikhlas.. sederhananya dari sikap gak menerima adalah menggerutu, menyalahkan orang lain, serta gak menikmati proses dan hasil.

Setelah aku mendapatkan pemahaman “you are not what you feeling” aku sekarang gak terlalu baper yang mudah kesinggung atau gak enakan.. memposisikan diri sebagai orang lain dan melihat diri sendiri ketika merasa itu.

Jadi agar tetap belajar dengan baik.. ya baiknya kita tetap menerima apa punn yang dialami di dunia pekerjaan, kuliah, bahkan di masyarakat.

Ya, menerima itu kata kerja.. ada sesuatu yang kita terima. Yakni keadaan atau kondisi yang membuat hati kita seolah olah teriris iris.

 

Belajar Fokus pada Inti

Hmm. Aku dibuat gak nyaman sama speedpage blog ku yang satu lagi.. kenapa bisa lemot speednya. Padahal aku udah pake hosting internasional yang direkomendasikan oleh para mastah..

Kebiasaan ku adalah terkadang mengabaikan inti atau substansi. Aku ingin belajar untuk mengabaikan hal hal spele.

Misal sekarang blog ku belum selesai.. saat blog post ini ditulis. Aku pusing mesti pakai themes yang mana.. tapi aku lupa untuk memikirkan konten yang akan dibuat selanjutnya.

Kalau udah gini kan sebenernya repot.. nanti malah kehilangan feel untuk menulis konten. Karena aku udah komitmen untuk menjalani #21DaysWritingChallence ya aku maksain nulis. Sebaik apapun yang aku bisa tulis.

Jadi terkadang kita dilelahkan oleh hal hal yang spele… lupa ke substansi atau inti persoalan itu. Walaupun sama sama penting. Tapi akan prioritas yang mesti didahulukan. Iya kan?

 

Belajar Menikmati Multitasking

Aku ini orangnya kalau gak ada kegiataan rasanya ada yang hambar. Makanya aku melakukan kegiatan lebih dari satu.

Maksudnya setelah aku menyelesaikan pekerjaan ku. Aku kembali ngulik apa yang semestinya aku ulik.

Selain aku suka banget ngulik atau ngoprek.. ya aku belajar untuk menikmati multitasking ini. Ya karena aku udah memulainya.. aku juga harus mencapai garis finish…

Aku udah menuliskan target itu.. tinggal sekarang menjalani apa yang bisa dilakukan..

Soalnya berpikirku.. kalau ada waktu luang kenapa gak dikerjain aja.. kan bisa lebih efektif dan efisien.

Multitasking di sini adalah aku menjalani sebagai mahasiswa ilmu komunikasi di universitas muhammadiyah tangerang, digital marketing jakcloth.co.id, editor hi-jak, dan profesional blogger.. haha… bener bener aku belajar di sini…

Belajar Bersabar

Untuk menghadapi itu semua gak mudah perlu kesabaran dalam mengendalikan diri. Agar apa yang udah direncanakan tetap berjalan dengan lancar sehingga hasil bisa sesuai yang diharapkan..

Pentingnya kita untuk menahan diri dari marah, sikap destruktif, dsb. Karena belajar sabar juga butuh kesabaran.. maka dari itu aku menasihati diri ku sendiri.. agar selalu senantiasa bersabar dalam menghadapi kondisi.

Walaupun aku bisa marah atau pun itu.. tapi aku bisa memiliki respon atas apa yang terjadi dalam hidupku..

 

Stay Foolish, Stay Hungry

Kalau kata mas Ippho Santosa.. “jadilah mangga mengkal. Agar selalu merasa mentah. Karena kalau matang, sebentar lagi busuk”.

Ya diperkuat lagi oleh mendiang Steve Jobs dalam pidatonya di universitas ia mengatakan “stay foolish, stay hungry”. Jadi teruslah rendah hati dalam menerima ilmu. Kareng gak semua orang bisa menyampaikan apa yang ia sampaikan kepada kita.

 

Mudah mudahan bermanfaat dan terinspirasi. []

Pemuda yang memiliki MISI membuat orang suka baca, suka buku. Ia YAKIN dengan MEMBACA. Hidup jauh lebih bermakna dan bahagia.