Merasa Tertinggal dari Teman di Usia 30? Cara Menilai Ulang Kemajuan Kariermu Lompat ke konten

Merasa Tertinggal dari Teman di Usia 30? Cara Menilai Ulang Kemajuan Kariermu

Profesional muda merenungkan arah karier sambil menulis di buku catatan

Garis start yang berbeda gak bisa dipakai untuk menentukan siapa yang paling cepat sampai.

Kamu membuka LinkedIn saat istirahat makan siang, lalu melihat teman lama baru saja jadi manajer, pindah ke luar negeri, atau membeli rumah, sementara kamu masih bertanya-tanya apakah pekerjaanmu sekarang udah tepat.

Kalau kamu merasa tertinggal, perasaan itu bisa muncul bukan karena kariermu benar-benar mandek, tetapi karena kamu sedang membandingkan perjalananmu dengan potongan cerita orang lain.

Rasanya tetap nyata, tentu saja, apalagi ketika usiamu mendekati 30 dan obrolan sekitar mulai ramai soal promosi, pernikahan, tabungan, atau rencana punya anak.

Namun, rasa tertinggal bukan bukti bahwa kamu gagal, melainkan sinyal untuk memeriksa apa yang sebenarnya kamu inginkan dan ukuran kemajuan apa yang sedang kamu pakai.

 

Kenapa Merasa Tertinggal Makin Kuat Saat Membandingkan Diri

Profesional muda melihat ponsel saat jeda makan siang dan merenungkan karier
Kabar pencapaian orang lain hanya satu potongan dari perjalanan mereka.

Psikolog Leon Festinger menjelaskan bahwa manusia kerap menilai kemampuan dan pendapatnya dengan membandingkan diri kepada orang lain, gagasan yang dikenal sebagai teori perbandingan sosial Leon Festinger.

Perbandingan ini kadang berguna, misalnya saat kamu ingin tahu keterampilan apa yang dibutuhkan untuk naik ke posisi berikutnya.

Masalahnya, perbandingan mudah berubah menjadi vonis ketika kamu cuma melihat hasil akhir orang lain dan mengabaikan kondisi yang membentuk perjalanan mereka.

Temanmu mungkin mendapat promosi setelah bertahun-tahun bertahan di satu perusahaan, sementara kamu baru pindah bidang dan sedang membangun pengalaman dari awal.

Kalian sama-sama berusia 30, tetapi bukan berarti kalian punya titik mulai, tanggung jawab keluarga, kesehatan, koneksi, atau definisi sukses yang sama.

Kadika pernah merasa satu tahun kerja terasa sia-sia karena teman seangkatan udah memimpin tim, sampai sadar bahwa selama periode itu Kadika belajar mengelola klien dan mengambil keputusan yang dulu selalu ditunda.

Apakah itu berarti Kadika gak boleh ingin promosi?

Bukan begitu, hehehe.

Artinya, kabar baik orang lain boleh jadi informasi, tetapi gak perlu otomatis berubah menjadi ukuran nilai dirimu.

 

Hidupmu dan Temanmu Berjalan dengan Data yang Berbeda

Dua profesional muda berbincang tentang karier di sebuah kafe
Perjalanan yang terlihat sama-sama maju bisa dibentuk oleh kondisi yang berbeda.

Saat melihat unggahan teman, kamu biasanya mendapat satu cuplikan yang udah dipilih: jabatan baru, sertifikat, kantor keren, atau hasil proyek yang sukses.

Kamu jarang melihat proses yang gak masuk unggahan, seperti lamaran yang ditolak, utang pendidikan, dukungan keluarga, jam kerja panjang, atau keputusan meninggalkan sesuatu yang penting.

Ini bukan alasan untuk berasumsi bahwa temanmu diam-diam kesulitan, tetapi pengingat bahwa informasi yang kamu punya memang gak lengkap.

Di sisi lain, kamu punya akses penuh pada kekhawatiranmu sendiri, termasuk hari-hari ketika kerja terasa lambat dan semua pilihan terlihat salah.

Jadi, perbandingan itu sering gak seimbang: kamu membandingkan bagian terbaik hidup orang lain dengan seluruh isi pikiranmu sendiri.

Coba perhatikan juga apakah yang membuatmu gelisah adalah pencapaian teman atau hal yang pencapaian itu lambangkan buatmu.

Promosi bisa melambangkan pengakuan, gaji lebih tinggi bisa melambangkan rasa aman, dan pindah ke kota lain bisa melambangkan kebebasan.

Kalau kamu tahu makna di balik rasa iri, kamu mendapat petunjuk yang lebih berguna daripada sekadar menyalahkan diri sendiri.

Misalnya, kamu iri melihat teman punya jabatan senior, tetapi setelah dipikirkan, yang kamu inginkan sebenarnya adalah punya pengaruh lebih besar atas keputusan tim.

Kebutuhan itu bisa dipenuhi lewat memimpin proyek kecil, menjadi mentor, atau mengajukan tanggung jawab baru, tanpa harus buru-buru mengejar jabatan yang belum tentu cocok.

 

Ubah Perbandingan Jadi Informasi, Bukan Vonis

Seseorang menyusun langkah karier bulanan di buku catatan
Ubah rasa iri menjadi petunjuk tentang kebutuhan dan langkah berikutnya.

Begitu muncul pikiran bahwa semua orang lebih maju, jangan buru-buru memaksa diri berpikir positif atau menutup media sosial selamanya.

Coba pisahkan dulu fakta, tafsiran, dan kebutuhanmu dalam tiga langkah sederhana.

  1. Tulis faktanya. Contoh: temanmu dipromosikan menjadi manajer setelah bekerja di perusahaan yang sama selama enam tahun.
  2. Periksa tafsirannya. Mungkin kamu menyimpulkan semua orang seumuran udah lebih sukses, padahal yang kamu lihat hanya satu orang dan satu pencapaian.
  3. Temukan kebutuhan di baliknya. Tanyakan apakah kamu menginginkan pengakuan, kenaikan penghasilan, pekerjaan yang menantang, atau kepastian arah.

Setelah itu, pilih satu tindakan kecil yang bisa kamu lakukan dalam 30 hari, bukan rencana besar yang membuatmu makin kewalahan.

Kalau yang kamu cari adalah penghasilan lebih baik, cek kisaran gaji untuk posisi incaran dan catat satu keterampilan yang bisa memperkuat negosiasimu.

Kalau yang kamu rindukan adalah tantangan, minta kesempatan mengerjakan proyek lintas tim atau ajukan peran yang lebih besar kepada atasan.

Kalau ternyata kamu gak tahu bidang apa yang ingin dituju, sisihkan waktu untuk meninjau pengalaman kerja dan pilihan profesi yang paling sesuai dengan kebutuhanmu.

Kamu bisa mulai dari panduan memilih profesi yang tepat untuk mengurai pertanyaan itu dengan lebih terarah.

Kadika juga suka memberi batas pada waktu melihat kabar karier orang lain, bukan karena kabar mereka buruk, tetapi karena perhatian Kadika lebih berguna saat dipakai menyusun langkah sendiri.

 

Bangun Ukuran Kemajuan yang Bisa Kamu Kendalikan

Timeline hidup sering terasa seperti daftar tenggat yang dibuat orang lain: harus naik jabatan sebelum usia tertentu, punya rumah sebelum menikah, atau menemukan pekerjaan impian sebelum kepala tiga.

Coba ganti daftar itu dengan ukuran yang berhubungan langsung dengan arah dan kondisi hidupmu sekarang.

Kamu bisa memakai tiga jenis ukuran: hasil, proses, dan kapasitas.

  • Hasil: berapa banyak tanggung jawab baru, kenaikan pendapatan, atau proyek yang selesai dalam enam bulan.
  • Proses: berapa kali kamu meminta umpan balik, melamar posisi yang sesuai, atau meluangkan waktu belajar setiap minggu.
  • Kapasitas: keterampilan, kepercayaan diri, tabungan, dan energi yang makin siap untuk langkah berikutnya.

Ukuran hasil tetap penting, tetapi ukuran proses membantu saat keputusan perekrutan atau promosi gak sepenuhnya berada di tanganmu.

Contohnya, target mendapat promosi dalam tiga bulan mungkin dipengaruhi anggaran perusahaan, sementara target mengumpulkan bukti hasil kerja dan berdiskusi dengan atasan lebih bisa kamu kendalikan.

Gunakan periode evaluasi yang masuk akal, misalnya setiap 90 hari, agar kamu gak mengadili karier berdasarkan suasana hati setelah melihat satu unggahan.

Di akhir periode, catat tiga hal yang kamu pelajari, satu hasil yang kamu bangun, dan satu keputusan yang perlu dibuat berikutnya.

Kalau hasilnya belum sesuai harapan, kamu bisa menentukan apakah perlu mengubah strategi, meminta dukungan, atau memberi waktu lebih panjang.

Kalau hidupmu sedang menanggung perubahan besar, seperti merawat orang tua atau pulih dari kelelahan, ukuran kemajuanmu mungkin perlu lebih lentur untuk sementara.

Itu bukan berarti kamu menyerah, melainkan menyesuaikan target dengan kapasitas nyata agar rencana tetap bisa dijalankan.

 

Saat Perasaan Tertinggal Perlu Didengar, Bukan Dilawan

Profesional muda berjalan sendiri sambil merenungkan arah hidup
Jeda sejenak bisa membantu kamu memilih langkah yang benar-benar diinginkan.

Ada kalanya rasa iri memberi tahu bahwa kamu udah terlalu lama mengabaikan sesuatu yang penting.

Mungkin kamu sebenarnya ingin mencoba bidang baru, tetapi terus bertahan hanya karena takut dianggap terlambat memulai.

Atau kamu ingin lingkungan kerja yang lebih sehat, tetapi merasa harus bersyukur karena orang lain tampak lebih sibuk dan sukses.

Perasaan itu layak didengar, tetapi gak harus langsung dituruti sebagai instruksi untuk resign, pindah kota, atau mengejar semua pencapaian sekaligus.

Beri jeda sehari, bicarakan dengan orang yang mengenal situasimu, lalu cari satu percobaan berisiko rendah untuk menguji keinginan tersebut.

Kamu bisa ikut kelas singkat, ngobrol dengan orang di bidang incaran, atau mengambil tugas kecil yang memberi gambaran tentang pekerjaan itu.

Kalau rasa tertinggal berubah menjadi cemas terus-menerus, mengganggu tidur, atau membuatmu sulit menjalani kegiatan harian, pertimbangkan untuk bicara dengan psikolog atau tenaga profesional.

Sebelum menutup halaman ini, coba jawab dengan jujur: pencapaian siapa yang akhir-akhir ini paling sering kamu jadikan patokan, dan kebutuhan apa yang sebenarnya sedang ingin kamu penuhi?

Lalu pilih satu langkah kecil untuk minggu ini, bukan demi menyusul orang lain, tetapi supaya hidupmu bergerak ke arah yang memang kamu pilih.

 

Referensi

Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.