Udemy Indonesia: Cara Belajar Praktis untuk Meningkatkan Skillmu
Udemy akhirnya masuk ke Indonesia, sebuah kesenangan tersendiri kalau platform belajar yang selama ini aku gunakan bisa hadir di Indonesia. Salah satu…
Aku Kadika. Kepalaku jarang sepi ide, dan tanganku gatal kalau ide cuma berhenti jadi catatan. Sejak 2013 aku ngubah tulisan jadi kelas, kelas jadi sekolah, dan kebutuhan sendiri jadi puluhan plugin yang dipakai orang. Sekarang, giliran idemu.
Kebanyakan bukan karena kurang pintar atau kurang usaha. Cuma ada satu sambungan yang belum nyambung.
Ilmunya ada, pengalamannya banyak. Yang belum ada: bentuk yang bisa dibeli orang. Di sini aku senang banget ngulik, karena ini core skill-ku.
Biasanya beres lewat: kelas, ebook, programOrang mampir, baca sebentar, lalu pergi. Seringnya bukan produknya yang salah, tapi ceritanya belum nyampe ke hati pembaca.
Biasanya beres lewat: copy landing page, email, storytellingPadahal satu tulisan bisa jadi pintu masuk penghasilan, asal di belakangnya ada checkout, member area, dan alur yang jalan sendiri.
Biasanya beres lewat: web custom + sistem DigithicBiaya bulanan jalan terus, data pembeli bukan punyamu, fitur dibatasi. Aku pernah di posisi itu, makanya aku bikin alatnya sendiri.
Biasanya beres lewat: sistem jualan di dotcom sendiriKampus, komunitas, sampai perusahaan. Aku bawain materi yang bikin orang pulang dengan sesuatu yang bisa langsung dipraktikkan.
Biasanya beres lewat: seminar, workshop, trainingIni masalah yang paling aku pahami, hehehe. Kadang yang dibutuhin cuma satu sesi bedah ide biar ketahuan mana yang layak dikejar sekarang.
Biasanya beres lewat: sesi bedah ide + peta prioritasBiasanya kamu butuh penulis, desainer web, developer, dan orang marketing. Lalu kamu sibuk jadi penerjemah di antara mereka, dan idemu pelan-pelan berubah bentuk.
Aku kebetulan polymath: nulis, bikin produk, ngoding, dan jualan, semuanya pernah dibayar. Jadi idemu gak putus di tengah jalan, dan kamu cukup cerita sekali.
Riset pasar, bedah ide, nentuin mau jadi apa dan buat siapa.
Tulisan, copy, dan narasi yang bikin orang ngerasa "ini aku banget".
Kelas, ebook, asesmen, program. Sesuatu yang bisa dibeli dan dipakai.
Web, checkout, member area, otomasi. Biar jalan meski kamu lagi tidur.
Hampir semua ini lahir dari ide spontan yang aku seriusin. Sebagian buat diriku sendiri, sebagian buat orang lain. Semuanya masih jalan sampai sekarang.
Berawal dari kelas nulis kecil, sekarang jadi sekolah content writer yang berbadan hukum PT Impactful Writing Indonesia. Kurikulum, kelas, sertifikasi CIW dan CIC, sampai sistem belajarnya aku rancang sendiri.
Plugin all-in-one buat jualan dari blog: checkout, member area, affiliate, kupon, langganan. Lahir karena aku capek bayar platform orang.
Puluhan plugin dan add-on. ArtiThic nulis artikel otomatis dengan AI, PayThic bikin pembayaran aktif sendiri dari notifikasi HP, VidThic, SertiThic, UnlockThic, dan teman-temannya.
Skills School dengan tagline Master Skills, Master Life. Lengkap dengan asesmen Skill Maps dan Monetizing Maps yang aku bangun dari nol.
Dari orang yang dulu gak suka baca, jadi penulis yang ebook-nya diunduh puluhan ribu kali.
File Excel HPP bisnis dimsum keluarga aku ubah jadi kalkulator online yang bisa dijual, lengkap dengan strategi monetisasi dan landing page-nya.
Rasa penasaranku soal bakat dan kepribadian aku ubah jadi alat ukur yang bisa dipakai siapa aja buat kenal dirinya lebih dalam.
Halaman custom yang ringan dan rapi, dibangun di WordPress dengan tema Digithic Lite tanpa page builder. Halaman yang lagi kamu baca ini salah satunya.
Serius. Tapi 2013 aku iseng mulai ngeblog, lalu keterusan. Dari situ datang juara lomba blog, tawaran kerja yang gak pernah aku lamar, sampai gaji dua kali lipat dari gaji pertamaku. Semua karena satu skill yang dulu aku hindari.
Tahun 2014 aku mulai serius mengenali diri. Ternyata aku ISTP dan sanguinis: spontan, gampang antusias, dan gak betah kalau ide cuma diomongin. Sejak itu aku berhenti melawan sifat itu dan malah menjadikannya mesin kerja.
Jadi kalau kamu lihat aku lompat dari nulis ke ngoding, ke ngajar, ke bikin asesmen, itu bukan gak fokus. Itu caraku nyambungin titik-titik yang orang lain belum lihat. Dan biasanya, di sambungan itulah masalahmu selesai.
Kenali perjalananku lebih dekat →Soal bisnis, psikologi, menulis, dan hal-hal yang lagi bikin aku penasaran minggu ini.
Udemy akhirnya masuk ke Indonesia, sebuah kesenangan tersendiri kalau platform belajar yang selama ini aku gunakan bisa hadir di Indonesia. Salah satu…
Pekerjaan idaman? Hmm, cukup menarik untuk dibahas, apalagi sekarang marak nama profesi baru bermunculan. Dampak dari perkembangan internet yang semakin pesat. Tak…
Kalau anak zaman sekarang ditanya, “kamu mau jadi apa?” “aku mau jadi youtuber” “aku mau jadi blogger” “aku mau jadi influencer” Intinya…
Sering kali aku melihat bio seseorang (wanita) “lagi cari yang serius”. Tau sih maksudnya kemana dan seolah itu memframing dirinya sendiri kalau…
“aku mesti ngapain ya supaya bisa dapetin uang jajan kuliah?” Mungkin di antara kamu pernah terbesit pertanyaan itu, aku pun demikian. Sejak…
Anugerah terbesar manusia adalah memiliki keinginan. Berbeda dari makhluk lainnya yang tak memiliki keinginan layaknnya manusia. Karena sejak lahir dibekali akal. Keinginan,…
Oleh: Dwi Andika Pratama Film Bioskop emang selalu bikin kita terkesan apalagi Shazam jebolan DC ini. Awalnya aku tak mau menonton. Soalnya…
Asesmen yang aku bangun ini juga yang aku pakai buat diriku sendiri. Hasil dasarnya gratis, dan sering jadi bahan obrolan pertama kita.
Petakan core skill, skill pendukung, dan identitas skill-mu. Hasilku: Product Maker yang Pandai Menjual.
Petakan skill-ku → LanjutanSetelah tahu skill-mu, lihat jalur uang yang paling cocok, harga yang layak, dan roadmap 90 hari.
Petakan monetisasiku → BakatNiche Navigator, Writing DNA, MBTI Report, dan asesmen lain buat kenal pola pikir alamimu.
Mulai asesmen →Kirim satu pesan: apa yang mau kamu bangun, dan di mana macetnya. Aku baca sendiri. Kalau aku bisa bantu, kita bahas jalannya. Kalau ternyata bukan aku orangnya, aku kasih tau juga.