Seni Menjadi Problem Solver untuk Diri Sendiri Lompat ke konten

Seni Menjadi Problem Solver untuk Diri Sendiri

“Masalah tidak akan bermasalah bila perasaanmu tidak bermasalah.” Dedy Susanto

Meskipun konteks kutipan yang disampaikan penulis Pemulihan Jiwa ini, lebih kepada bagaimana cara memaknai keadaan, tapi, yaudah nggak apa-apa, Kadika pengen masukin aja. Wkwkwk…

Siapa yang nggak pernah dihadapkan yang namanya “masalah”? Semua orang pasti pernah menghadapi masalah dalam hidupnya.

Ada yang langsung tau solusinya mesti ngapain, ada yang perlu mengalami penderitaan, ada juga yang langsung merasakan pencerahan mesti ngapain.

Tapi taukah kamu sebenarnya masalah itu bukanlah hal yang kita hadapi, rasakan, dan alami.

“kok gitu, sih, Kadika? Maksudnya gimana?”

Iya, Kadika setelah tau statement ini malah jadi seneng dengan masalah, karena Kadika jadi tau apa yang sebenarnya Kadika inginkan.

Lanjut, ya…

 

Inilah Arti Masalah Sesungguhnya

Jadi kata pak Prasetya M. Brata, “masalah adalah hal yang ingin kita capai.”

Misal, kita mau berangkat kerja terus hujan, hujan itu sendiri bukanlah masalah, masalah kita mau berangkat kerja tapi nggak kebasahan karena hujan.

Ya, berangkat menggunakan jas hujan;

Atau bisa juga berangkat menggunakan mobil—bila ada dan memungkinkan, maksudnya gocar, ya;

Atau bisa juga naik transum. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan, karena kita tau masalah sebenarnya apa.

Kalau Kadika bilang masalah artinya apa yang kita ingin capai. Nggak punya uang buat liburan bukanlah masalah, masalahnya adalah bisa liburan.

Maka, caranya banyak:

Bisa nabung;

Bisa cari lomba blog yang hadiahnya liburan;

Bisa cari giveaway yang hadiahnya liburan.

Ini terjadi ketika aku punya masalah ketika masih kuliah, apa itu?

Ya, pengin punya laptop yang ada VGA cardnya, karena biar bisa desain dan editing. Saat itu kadika juga nggak ada budget 5-7 jutaan, tapi karena tau apa masalah sebenarnya yang Kadika lakukan adalah mencari cara untuk bisa mendapatkan laptop itu.

Apa caranya Kadika?

Ya, buka jasa web;

Ikut lomba blog;

Ngumpulin uang;

Nerima kerjaan.

Hingga akhirnya Kadika mendapatkan laptop itu dari lomba blog, persis seperti yang Kadika inginkan.

Ketika sedang dihadapkan kondisi yang nggak nyaman atau yang nggak diinginkan tetaplah fokus pada masalah yang sebenarnya terjadi. Jangan terkecoh dengan bungkusnya.

 

Fokuslah Pada Apa yang Kamu Inginkan

Mendapatkan hadiah bisa jadi senang, bisa jadi sedih.

“kok gitu sih Kadika, kenapa emangnya?”

Ya, itulah persepsi tergantung dari mana sisi kita memandang.

Bayangin kalau kamu dapet hadiah mobil terus mesti bayar pajaknya 11% dari harga mobil, sedangkan kamu nggak ada uang buat bayar pajaknya, bukankah sedih atau terbebani yang dirasakan?

Bagaimana jika ternyata kalau pas dapet hadiah mobil kamu juga punya uang untuk membayar pajaknya.

Jadi, ketika dihadapkan dengan kondisi yang nggak diinginkan, ya, tugasnya menerimanya dulu baru kita ubah.

Kebiasaan buruk kita adalah menolaknya dulu, baru rungsing, setelah itu mikirin gimana cara mengubahnya, tapi melakukan proses menerima.

Padahal ketika kita menerima, perasaan nggak nyaman jadi melebur jadi bagian diri kita, nggak jadi mengganggu perasaan kita.

 

Tidak Ada yang Bisa Membantu Selain Dirimu Sendiri

“jujur pada diri sendiri adalah latihan yang baik” — Sigmund Freud

Sering-seringlah menerima kenyataan, menerima apa yang dirasakan, menerima apa yang sebenarnya kita tolak selama ini.

Ini yang membuat kita merasa tenang, lega, dan damai. Seriusan, ini udah Kadika latih sejak ketemu kutipan Freud.

Bahkan Darius Foroux juga pernah menuliskannya dalam buku terbarunya, 21 Gagasan Besar yang Mengubah Hidup, dia mengatakan, “tidak ada yang bisa membantu diri Anda keluar dari masalah selain diri Anda sendiri.”

Inilah pentingnya kita instrospeksi diri, agar menyadari apa sebenarnya yang salah dalam diri kita, apa yang keliru selama ini.

Mulailah menganalisis apa yang keliru, apa yang jadi hambatan, dan yang terpenting tau apa sebenarnya yang kita inginkan.

Kalau ada yang bilang, “gue mah gak punya masalah…” sebenarnya itu udah jadi masalah, karena nggak tau apa yang sebenarnya diinginkan.

Kalau yang dimaksud masalah nggak ada kondisi yang nggak nyaman atau nggak enak, ya, itu pilihan dalam memaknai keadaan.

 

Jangan Berlarut-larut Mencari Sebab

Kalau kamu menghadapi kondisi yang nggak mudah, berhentilah berlarut-larut memikirkan sebab apa yang bikin kondisi itu terjadi, karena kita nggak benar-benar tau apa sebabnya.

Meskipun kita dianjurkan instrospeksi diri, tapi tetep kita fokus ke apa yang jadi masalah kita. Kalau kita berlarut-larut malah bikin kita jadi nggak semangat menyelesaikan masalah kita.

Sadari secukupnya, fokus ke apa yang bisa kamu lakukan sekarang.

Jadi apa sebenarnya masalah kamu?

Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.