Kenapa Kita Merasa Belum Cukup Saat Karier Terus Maju? Lompat ke konten

Kenapa Kita Merasa Belum Cukup Saat Karier Terus Maju?

Profesional muda merenung di dekat jendela kantor setelah bekerja

“We suffer more often in imagination than in reality.”

Seneca, Letters to Lucilius, Letter 13

Kamu baru dapat promosi, menyelesaikan proyek besar, atau menerima gaji yang dulu kamu incar, tapi tetap merasa belum cukup.

Kadika pernah ada di posisi itu, terus mengejar target berikutnya sambil mengira rasa lega pasti datang nanti.

Ternyata, pencapaian baru sering cuma memberi jeda sebentar sebelum kepala mulai menyusun standar berikutnya.

Perasaan itu bukan bukti kalau kamu kurang bersyukur atau gagal menikmati hidup.

Sering kali, ada campuran ekspektasi yang terus naik, kebiasaan membandingkan diri, dan definisi berhasil yang belum benar-benar kamu pilih.

 

Kenapa Kita Merasa Belum Cukup Saat Target Tercapai?

Profesional muda merenung setelah mencapai target karier
Pencapaian baru gak selalu langsung membawa rasa lega.

Target biasanya terlihat jelas dari luar, seperti naik jabatan, punya tabungan tertentu, atau bekerja di perusahaan yang kamu impikan.

Namun, bayangan tentang hidup setelah target tercapai sering lebih kabur daripada daftar targetnya.

Kamu mungkin membayangkan promosi akan membuatmu lebih tenang, lalu menemukan tanggung jawab dan jam kerja ikut bertambah.

Gaji naik, tapi pengeluaran ikut menyesuaikan karena kamu mulai merasa perlu punya rumah, kendaraan, atau gaya hidup baru.

Standar keberhasilan yang terus bergeser bikin pencapaian lama cepat terasa biasa.

“Kalau aku udah sampai posisi ini, bukannya harusnya aku merasa puas?”

Belum tentu, karena pencapaian bisa memenuhi target tertentu tanpa otomatis memenuhi kebutuhan lain seperti istirahat, kedekatan, rasa aman, atau ruang untuk memilih.

Kadika dulu mengira target yang tercapai pasti langsung bikin hati tenang, padahal sering kali yang berubah hanya angka dan tanggung jawab di kalender.

Kalau setelah promosi kamu makin jarang makan siang tanpa membuka laptop, wajar kalau rasa puasnya gak sebesar bayanganmu.

Itu bukan berarti promosi tersebut gak berharga, melainkan ada bagian hidup lain yang juga butuh diperhatikan.

Psikolog Barry Schwartz membahas gimana terlalu banyak pilihan dan standar bisa membuat orang terus memikirkan pilihan yang belum diambil dalam buku The Paradox of Choice.

Di dunia kerja, pola serupa muncul saat setiap keberhasilan langsung berubah menjadi syarat baru sebelum kamu mengizinkan diri merasa cukup.

 

Perbandingan Bikin Pencapaian Sendiri Tampak Kecil

Pekerja muda melihat ponsel sambil membandingkan perjalanan karier
Kabar sukses orang lain hanya menunjukkan sebagian kecil dari hidup mereka.

Kamu membuka LinkedIn setelah menyelesaikan pekerjaan, lalu melihat teman kuliah mengumumkan jabatan baru atau pindah ke kantor yang lebih bergengsi.

Dalam beberapa detik, pencapaianmu sendiri bisa terasa kurang menarik, meski belum lama tadi kamu bangga menyelesaikannya.

“Aku harusnya udah sejauh dia, kan?”

Pertanyaan itu terasa masuk akal karena yang terlihat biasanya adalah potongan keberhasilan orang lain, bukan proses lengkap di belakangnya.

Psikolog Leon Festinger menjelaskan kecenderungan manusia membandingkan diri dengan orang lain dalam teorinya tentang perbandingan sosial.

Perbandingan bisa berguna kalau kamu mencari strategi, misalnya meniru cara rekan kerja memberi presentasi atau membangun keahlian baru.

Namun, perbandingan jadi melelahkan saat hidup orang lain kamu jadikan ukuran tunggal untuk menilai hidup sendiri.

Rekan yang terlihat cepat naik jabatan mungkin punya pengalaman, dukungan, kondisi keluarga, atau prioritas yang berbeda darimu.

Kamu juga gak selalu melihat tekanan yang ia hadapi, pekerjaan yang ia lepaskan, atau hal yang ia korbankan di luar kantor.

Potongan hidup orang lain bukan alat ukur yang adil untuk seluruh perjalananmu.

Kadika pernah membandingkan proses sendiri dengan kabar baik orang lain, seolah-olah hidup ini lomba lari dengan garis akhir yang sama.

Padahal, Kadika bahkan gak tahu apakah orang yang dibandingkan itu sedang berlari ke tujuan yang sama, hehehe.

Kalau media sosial membuatmu sibuk menghitung jarak dengan orang lain, coba ubah pertanyaannya menjadi, “Apa yang bisa kupelajari dari langkahnya?”

Pertanyaan itu membantu kamu mengambil wawasan tanpa menjadikan keberhasilan orang lain sebagai bukti bahwa kamu tertinggal.

 

Standar Suksesmu Mungkin Masih Dipinjam dari Orang Lain

Kamu bisa mengejar jabatan tertentu karena keluarga menganggapnya bergengsi, teman-temanmu menganggapnya penting, atau industri terus memuji orang dengan gelar itu.

Semua alasan itu boleh jadi punya pengaruh, tapi belum tentu cocok dengan hal yang sebenarnya kamu butuhkan sekarang.

“Tapi kalau aku gak mengejar promosi, nanti orang menganggap aku gak punya ambisi?”

Ambisi gak harus selalu berarti naik jabatan secepat mungkin atau menerima semua tanggung jawab tambahan.

Ambisi juga bisa berarti membangun keahlian yang tahan lama, punya waktu untuk keluarga, atau bekerja dengan ritme yang gak menguras kesehatan.

Standar dari luar sering mudah diukur, seperti jumlah pengikut, gaji, jabatan, dan nama perusahaan di profil profesional.

Sementara itu, ukuran pribadi bisa lebih sederhana, seperti punya waktu istirahat yang cukup atau berani menyampaikan pendapat di rapat.

Ukuran yang lebih pribadi tetap nyata meski gak bisa dipamerkan dalam satu unggahan.

Kamu bisa mulai dengan memisahkan tiga hal, yaitu hal yang benar-benar kamu inginkan, hal yang kamu kejar demi diterima, dan hal yang sekadar terlihat keren.

Contohnya, mungkin kamu memang ingin penghasilan lebih tinggi, tetapi gak ingin mengelola tim besar.

Kalau begitu, jalur spesialis bisa lebih cocok daripada mengejar posisi manajer hanya karena dianggap sebagai satu-satunya tanda kemajuan.

Artikel Kadika tentang Kaya itu Proses, Sukses itu Definisi juga mengingatkan bahwa makna keberhasilan bisa berbeda untuk tiap orang.

Memilih definisi sendiri bukan alasan untuk berhenti berkembang, melainkan cara supaya tenaga yang kamu keluarkan mengarah ke hidup yang memang kamu inginkan.

 

Gimana Caranya Merasa Cukup Tanpa Berhenti Berkembang?

Profesional mencatat kemajuan karier mingguan di buku catatan
Mencatat kemajuan kecil membantu kamu melihat perjalanan dengan lebih utuh.

Merasa cukup bukan berarti kamu harus berhenti punya target atau menerima keadaan yang masih bisa diperbaiki.

Rasa cukup membantu kamu melihat bahwa hidupmu punya nilai sekarang, sambil tetap membuka ruang untuk belajar dan berubah.

“Kalau aku mulai puas, apa aku bakal kehilangan motivasi?”

Kepuasan dan dorongan untuk berkembang gak harus saling menghapus.

Kamu bisa menghargai kemajuan yang ada sambil mengakui dengan jujur bahwa masih ada hal yang ingin kamu capai.

Untuk mempraktikkannya, catat satu kemajuan karier setiap pekan yang biasanya cepat kamu anggap biasa.

Misalnya, kamu berhasil menyampaikan pendapat di rapat, menyelesaikan pekerjaan sebelum tenggat, atau meminta bantuan sebelum kewalahan.

Setelah itu, tulis apa dampak nyata dari kemajuan tersebut bagi pekerjaan atau kehidupanmu.

Kemajuan kecil yang terlihat bisa memberi gambaran lebih seimbang daripada hanya menghitung target besar yang belum tercapai.

Teresa Amabile dan Steven Kramer membahas manfaat memperhatikan kemajuan sehari-hari dalam tulisan The Power of Small Wins di Harvard Business Review.

Gagasan itu berguna untuk karier karena perkembangan gak selalu datang dalam bentuk promosi atau perubahan gaji.

Kamu bisa melihatnya dari cara kerja yang lebih teratur, kemampuan yang makin terasah, atau keberanian menangani percakapan sulit.

Coba juga tentukan batas untuk satu target, seperti kapan kamu mengevaluasi hasil dan kapan kamu memberi diri waktu untuk menikmati prosesnya.

Kalau tujuanmu mencari pekerjaan baru dalam enam bulan, misalnya, tentukan ukuran yang bisa kamu kendalikan seperti jumlah lamaran yang disesuaikan dan waktu belajar per minggu.

Kamu gak bisa mengendalikan semua jawaban perekrut, tapi kamu bisa melihat usaha dan perkembanganmu dengan lebih jelas.

Hati-hati juga dengan kalimat seperti “nanti aku baru boleh istirahat kalau semuanya beres”.

Di pekerjaan, daftar yang perlu dibereskan sering muncul lagi besok, jadi istirahat gak seharusnya menunggu keadaan sempurna.

Kadika juga masih belajar membedakan dorongan untuk berkembang dengan kebiasaan memindahkan garis akhir setiap kali berhasil mencapai sesuatu.

Kalau kamu sering merasa bersalah saat beristirahat, itu mungkin tanda bahwa ukuran produktivitasmu perlu ditinjau, bukan alasan untuk menghukum diri lebih keras.

 

Belajar Mengakui Pencapaian yang Sedang Kamu Jalani

Profesional muda menikmati momen refleksi setelah bekerja
Kamu boleh mengakui kemajuan tanpa harus berhenti berkembang.

Rasa belum cukup biasanya gak selesai dengan satu afirmasi atau satu hari tanpa membuka media sosial.

Namun, kamu bisa mulai memberi ruang untuk melihat pengalaman kariermu secara lebih utuh, bukan cuma lewat target berikutnya.

“Aku masih punya banyak yang belum tercapai, jadi apa gunanya mengapresiasi diri sekarang?”

Mengapresiasi diri bukan berarti berpura-pura semua hal berjalan baik atau menolak ambisi yang kamu punya.

Artinya, kamu berhenti menghapus usaha yang udah dilakukan hanya karena perjalananmu belum selesai.

Coba lihat kembali satu tahun terakhir, lalu tulis perubahan yang benar-benar terjadi dalam cara kamu bekerja, berkomunikasi, atau mengambil keputusan.

Mungkin perubahan itu kecil, tetapi bisa menunjukkan bahwa kamu udah bergerak, bukan berdiri di tempat yang sama.

Kalau Kadika boleh mengajak kamu merenung, apa satu hal yang sekarang bisa kamu lakukan lebih baik dibandingkan setahun lalu?

Dan kalau pencapaian itu gak perlu dibandingkan dengan siapa pun, apakah kamu masih bisa menganggapnya berarti?

Kamu boleh bertumbuh tanpa meremehkan perjalanan sendiri, dan kamu boleh merasa cukup hari ini tanpa menutup pintu untuk hari esok.

Kadika berharap kamu bisa membawa pulang satu pertanyaan yang lebih jujur daripada “kapan aku akhirnya berhasil?”, yaitu “kehidupan seperti apa yang sebenarnya sedang aku bangun?”

Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.