Kenapa Jalan Sukses Gak Bisa Disamakan untuk Semua Orang? Lompat ke konten

Kenapa Jalan Sukses Gak Bisa Disamakan untuk Semua Orang?

Profesional muda mempertimbangkan arah karier di persimpangan jalur taman

“It is only with the heart that one can see rightly; what is essential is invisible to the eye.”

Antoine de Saint-Exupéry, The Little Prince

Kamu mungkin lagi membandingkan karier sendiri dengan teman yang baru promosi, pindah ke perusahaan besar, atau mulai bisnis sampingan yang kelihatannya sukses banget.

Kadika pernah ikut mengukur kemajuan dari pencapaian orang lain, lalu merasa langkah sendiri lambat, padahal situasi dan tujuan hidupnya beda.

Di situlah jalan sukses sering terasa membingungkan, karena kita mencoba memakai ukuran orang lain untuk menilai hidup sendiri.

"Kalau jalurnya beda, jangan-jangan aku cuma cari alasan?" Belum tentu, karena memahami konteks bukan alasan untuk berhenti berusaha, melainkan cara memilih usaha yang lebih tepat.

 

Kenapa Jalan Sukses Gak Bisa Disamakan untuk Semua Orang?

Dua profesional muda menjalani kondisi kerja dan karier yang berbeda
Kondisi awal yang berbeda membuat langkah karier tiap orang gak selalu sama.

Jalan sukses gak bisa diseragamkan karena setiap orang memulai dari kondisi yang berbeda, meski jabatan atau usianya kelihatan mirip.

Dua orang berusia 30 tahun bisa punya gaji, tanggungan keluarga, kesehatan, koneksi kerja, dan ruang untuk mengambil risiko yang jauh berbeda.

Satu orang mungkin bisa menerima tawaran kerja dengan gaji lebih kecil demi belajar, sementara yang lain perlu menjaga penghasilan tetap karena menanggung biaya keluarga.

Kalau dua kondisi itu dibandingkan memakai satu standar, keputusan yang masuk akal untuk satu orang bisa terasa mustahil untuk orang lain.

Karena itu, sukses yang sesuai konteks bukan berarti kamu memanjakan diri atau menurunkan target sesuka hati.

Artinya, kamu menetapkan tujuan dengan melihat sumber daya, batasan, nilai, dan fase hidup yang sedang dijalani.

Dalam buku Working Identity, Herminia Ibarra membahas perubahan karier sebagai proses mencoba kemungkinan baru, bukan sekadar menemukan satu jawaban sempurna dari awal.

Gagasan itu penting buat kamu yang merasa harus punya rencana karier lengkap sebelum berani bergerak.

Kadang, langkah berikutnya baru kelihatan setelah kamu mencoba proyek, berbicara dengan orang di bidang lain, atau mengambil tanggung jawab baru.

 

Mulai dari Kondisi yang Kamu Punya Sekarang

Profesional muda merencanakan langkah karier dari meja kerja di rumah
Rencana yang realistis berangkat dari waktu, tenaga, dan tanggungan yang ada.

Daripada bertanya, "Apa resep sukses yang paling cepat?", coba tanya, "Dengan waktu dan tenaga yang aku punya sekarang, langkah apa yang paling masuk akal?"

Pertanyaan kedua memang gak terdengar dramatis, tapi jawabannya bisa langsung mengubah pilihan harianmu.

Misalnya, kamu ingin pindah ke bidang pemasaran, tapi masih bekerja penuh waktu dan punya tanggungan bulanan.

Kamu gak harus langsung mengundurkan diri untuk membuktikan keseriusan, karena bisa mulai dari kursus singkat, proyek sukarela, atau tugas lintas tim yang relevan.

Coba catat tiga hal sebelum mengambil keputusan besar: waktu luang per minggu, batas risiko keuangan, dan keterampilan yang bisa dipakai untuk berpindah.

Kalau waktu luangmu hanya lima jam seminggu, target membuat portofolio satu proyek kecil dalam sebulan mungkin lebih realistis daripada mengambil tiga kursus sekaligus.

Kalau tabungan belum cukup untuk menutup biaya hidup enam bulan, keputusan resign tanpa rencana bisa menambah tekanan yang sebenarnya bisa dihindari.

Angka itu bukan aturan wajib untuk semua orang, tetapi contoh cara mengubah kekhawatiran samar menjadi batas yang bisa kamu evaluasi.

Kadika dulu mengira setiap peluang harus langsung diambil supaya gak ketinggalan, sampai kalender penuh dan energi habis sebelum satu proyek selesai, hehehe.

Pelajarannya sederhana: peluang yang bagus belum tentu cocok dengan kapasitasmu saat ini.

"Tapi kalau aku gak berani ambil risiko, kapan maju?" Risiko tetap perlu, tetapi kamu bisa mengatur ukurannya supaya berani mencoba tanpa mempertaruhkan semua hal sekaligus.

 

Jangan Tertukar antara Arah Hidup dan Standar Sosial

Dua profesional muda berbincang tentang pilihan dan arah karier
Percakapan dengan praktisi bisa membantu menguji asumsi sebelum mengambil keputusan.

Standar sosial sering menyamar sebagai tujuan pribadi, terutama saat teman sebaya mulai menikah, mendapat promosi, membeli rumah, atau membuka usaha.

Kamu bisa ikut menginginkan hal yang sama, tetapi coba cek apakah keinginan itu datang dari nilai yang kamu pegang atau rasa takut tertinggal.

Dalam Designing Your Life, Bill Burnett dan Dave Evans mendorong pembaca untuk merancang kehidupan lewat eksperimen kecil dan beberapa kemungkinan masa depan.

Caranya bukan menebak satu jalur yang paling benar, tetapi membuat pilihan yang bisa diuji sambil mengumpulkan informasi baru.

Contohnya, sebelum memutuskan mengambil gelar lanjutan, kamu bisa bicara dengan tiga orang yang bekerja di bidang tujuanmu dan mencari tahu syarat kerja yang benar-benar dipakai.

Kamu juga bisa mengambil proyek percobaan selama enam minggu untuk melihat apakah pekerjaan itu cocok dengan kemampuan dan keseharianmu.

Langkah kecil seperti itu memberi data nyata, bukan cuma bayangan bahwa pekerjaan baru pasti lebih memuaskan.

Di artikel Harvard Business Review, Manage Your Energy, Not Your Time, Tony Schwartz dan Catherine McCarthy mengingatkan bahwa energi ikut menentukan kemampuan kita bekerja dengan baik.

Jadi, saat menilai target karier, perhatikan juga waktu pemulihan, beban emosional, dan jenis pekerjaan yang membuatmu tetap bisa berfungsi dengan sehat.

"Kalau aku memilih jalur yang lebih pelan, apa artinya aku kurang ambisius?" Enggak, karena laju yang berbeda tetap bisa menuju pertumbuhan jika ada arah dan tindakan yang konsisten.

 

Pilih Langkah Karier yang Bisa Diuji

Tujuan yang terlalu besar sering bikin kamu bingung harus mulai dari mana, jadi pecah menjadi tindakan yang bisa diuji dalam rentang waktu pendek.

Kalau kamu ingin menjadi manajer, misalnya, cari kesempatan memimpin satu proyek kecil sebelum menunggu jabatan baru tersedia.

Perhatikan cara kamu membagi tugas, memberi umpan balik, menjaga tenggat, dan menyelesaikan konflik sederhana.

Setelah proyek selesai, minta masukan dari dua rekan kerja dan catat satu kemampuan yang udah kuat serta satu hal yang perlu dilatih.

Kalau targetmu pindah bidang, susun eksperimen enam minggu dengan keluaran yang jelas, seperti membuat satu studi kasus, mengikuti satu proyek, dan berbicara dengan dua praktisi.

Eksperimen kecil membantu kamu membedakan minat yang bertahan dari rasa penasaran sesaat.

Eksperimen itu juga membuat keputusan lebih aman, karena kamu bisa mengubah arah berdasarkan pengalaman, bukan rasa malu untuk mundur dari rencana lama.

Kadika melihat target lebih mudah dijaga saat ukurannya konkret, misalnya mengirim dua lamaran berkualitas per minggu, bukan sekadar menulis "harus dapat kerja baru" di catatan.

Gunakan evaluasi bulanan untuk melihat apa yang berhasil, apa yang menguras tenaga, dan apa yang perlu disesuaikan.

Kalau satu cara gak memberi hasil setelah beberapa percobaan, ubah pendekatan tanpa buru-buru menyimpulkan bahwa kamu gak mampu.

 

Ukur Kemajuan dengan Ukuran yang Lebih Jujur

Profesional muda mengevaluasi perkembangan karier lewat catatan pribadi
Kemajuan bisa diukur lewat hal yang penting buat hidupmu, bukan cuma jabatan.

Angka seperti gaji, jabatan, dan jumlah pengikut memang gampang terlihat, tetapi gak selalu menunjukkan apakah pekerjaanmu cocok dengan kehidupan yang kamu inginkan.

Kamu bisa menambahkan ukuran lain, seperti keterampilan yang berkembang, kendali atas waktu, kualitas hubungan kerja, atau kondisi tubuh setelah menjalani rutinitas.

Pilih tiga ukuran yang paling penting buatmu, lalu tulis titik awalnya supaya kemajuan gak hanya terasa seperti firasat.

Contohnya, kamu ingin lebih mandiri secara profesional, jadi ukur jumlah proyek yang kamu kelola, umpan balik klien, dan penghasilan tambahan selama tiga bulan.

Kalau prioritasmu sekarang adalah menjaga kestabilan, ukuran kemajuan mungkin berupa dana darurat yang bertambah dan kemampuan baru yang dilatih secara rutin.

Ukuran yang jujur gak harus terlihat mengesankan di media sosial, tetapi perlu membantu kamu membuat keputusan yang lebih baik.

"Kalau teman udah jauh di depan, gimana caranya biar gak merasa tertinggal?" Coba bandingkan keputusanmu hari ini dengan kondisi dan tujuanmu sendiri beberapa bulan lalu.

Kamu boleh belajar dari pencapaian orang lain tanpa menyalin seluruh jalurnya, karena satu hal yang berhasil untuk mereka belum tentu pas untukmu.

Kadika juga masih perlu mengingatkan diri bahwa kemajuan gak selalu berbentuk lompatan besar, kadang berupa batas kerja yang lebih sehat atau keberanian mencoba tugas baru.

Kalau Kadika boleh mengajak kamu melakukan satu hal setelah membaca ini, tulis satu tujuan karier yang benar-benar kamu pilih, lalu tentukan eksperimen kecil yang bisa dimulai minggu ini.

Setelah itu, tanyakan ke diri sendiri: apakah langkah ini mendekatkanmu pada hidup yang kamu mau, atau cuma membuatmu terlihat sibuk mengejar ukuran orang lain?

Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.

Suka tulisan ini? Dapat yang berikutnya lewat email

Satu email seminggu. Isinya catatan yang gak aku taruh di blog.

Gak ada spam. Berhenti kapan saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.