“Omit needless words.” — William Strunk Jr., The Elements of Style
Kalimat itu pendek, tapi mengingatkan Kadika bahwa tulisan bagus lahir dari keputusan yang sengaja dibuat.
Kalau kamu bekerja di industri penulisan, belajar menulis membantu keputusan itu makin tajam.
“Kan sekarang alat bisa menulis cepat?” Bisa, dan alat memang berguna untuk mempercepat draf.
Namun, klien tetap perlu orang yang mampu menilai apakah isi draf itu akurat dan tepat sasaran.
Apa Hubungan Belajar Menulis dengan Kepercayaan Klien?
Bayangkan kamu lagi pesen makanan, lalu menunya cuma bilang, “Enak banget, pokoknya percaya, deh…”
Kamu mungkin malah mencari warung lain, hehehe…
Klaim tanpa penjelasan bikin orang ragu, termasuk saat klien membaca tulisanmu.
“Kalau tulisannya bagus, klien pasti percaya.”
Belum tentu, karena klien juga ingin tahu alasan di balik pilihan kata dan informasi.
Kredibilitas penulis tumbuh ketika prosesnya bisa dijelaskan, bukan ketika hasilnya disebut keren.
Coba deh ambil satu artikel lama, lalu tandai klaim yang belum punya sumber.
Setelah itu, periksa apakah judulnya menjawab pertanyaan yang muncul saat pembaca mencari informasi.
Latihan kecil ini membantu kamu melihat tulisan dari posisi klien dan pembaca.
Kalau kamu ingin mengecek pilihan penyampaian, artikel Ternyata ada 5 Gaya Bahasa Menulis bisa jadi teman latihan.
Tulisan yang Rapi Belum Tentu Mudah Dipercaya
Kadika pernah menulis pembuka artikel yang terdengar cerdas, tapi bikin orang mikir keras.
Pas dibaca ulang, paragrafnya terasa sibuk pamer kosakata, sementara pembaca masih nunggu inti persoalan.
Sejak itu, Kadika mencoba menaruh jawaban utama lebih cepat dan memangkas kalimat yang berputar.
Temuan riset Jakob Nielsen memberi alasan konkret untuk lebih peduli pada susunan tulisan.
Dalam penelitiannya tentang membaca halaman web, 79% responden memindai halaman, sedangkan 16% membacanya kata demi kata.
Angka itu bukan berarti semua orang selalu membaca dengan cara yang sama.
Namun, kalau pembaca memindai tulisanmu, subjudul yang jelas dan contoh konkret membantu mereka menemukan jawaban.
“Berarti cukup bikin kalimat pendek?”
Gak juga, karena kalimat pendek tetap bisa menyampaikan klaim yang keliru.
Coba cocokkan setiap klaim penting dengan sumber, lalu pastikan contohnya benar-benar mendukung pesan.
Suka tulisan ini? Dapat yang berikutnya lewat email
Satu email seminggu. Isinya catatan yang gak aku taruh di blog.
Gak ada spam. Berhenti kapan saja.
Terima kasih! Cek inbox kamu (juga folder Promosi/Spam).
Latihan Menulis yang Bisa Menunjukkan Kemampuanmu
Kalau kamu punya waktu 30 menit, pilih satu tulisan yang pernah dibuat.
Catat siapa pembacanya, masalah yang ingin dijawab, dan tindakan yang diharapkan setelah membaca.
Berikutnya, ubah satu paragraf yang terlalu umum menjadi contoh dengan situasi jelas.
Misalnya, ganti “tingkatkan kualitas komunikasi” dengan penjelasan tentang cara menjawab keluhan pelanggan.
Mintalah satu orang membaca versi lama dan versi revisinya, lalu tanyakan mana yang lebih jelas.
Umpan balik kayak gini lebih berguna daripada sekadar mengumpulkan pujian dari teman dekat.
Dalam buku Influence, Robert Cialdini membahas peran bukti sosial saat orang mengambil keputusan.
Bagi penulis, hasil kerja yang bisa diperiksa membantu calon klien menilai kemampuan dengan lebih masuk akal.
“Kadika, gimana kalau belum punya klien?”
Kamu tetap bisa bikin contoh tulisan berdasarkan masalah nyata.
Tunjukkan sumber rujukan, versi revisi, dan alasan perubahan supaya proses belajarmu terlihat.
Kapan Sertifikasi Content Writer Layak Dipertimbangkan?
Setelah latihan mandiri, kamu mungkin butuh ruang belajar yang lebih terarah.
Program sertifikasi bisa dipertimbangkan kalau materi dan penilaiannya membantu kamu menguji kemampuan secara jelas.
Anggap sertifikat kayak SIM: penting sebagai bukti proses, tapi kemampuan tetap terlihat saat praktik.
Kalau tulisanmu masih membingungkan pembaca, sertifikat aja gak bisa menyetir paragrafnya, hehehe…
“Sertifikat pasti bikin klien datang?” Gak ada jaminan gitu, dan kamu berhak memeriksa manfaatnya dulu.
Lihat apa yang dipelajari, cara kemampuan dinilai, serta kecocokannya dengan tujuan kerjamu.
Kalau kamu ingin menjajaki pilihan itu, lihat informasi Certified Impactful Writer.
Bandingkan programnya dengan kebutuhanmu, lalu tentukan apakah langkah itu melengkapi latihan dan hasil kerja yang udah kamu bangun.
Jadi, setelah membaca ini, bagian mana dari tulisanmu yang ingin kamu perbaiki agar orang lebih mudah percaya?
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Boleh tinggalkan komentar setelah kirim dukungan, biar aku bisa ucapin terima kasih. ^^
