Menjadi Sarjana sebelum Wisuda

Menjadi Sarjana sebelum Wisuda

Sarjana? Terdengar familiar kan? Ya, seseorang yang selesai menyelesaikan studi strata satu di universitas dan sudah menyelesaikan skripsi layak menyandang Sarjana. Tapi apa definisi sarjana yang sesungguhnya?

Kalau menurut Wikipedia “gelar akademik yang diberikan kepada lulusan program pendidikan Sarjana (S-1).” Jadi bener ya?

Tapi kenapa masih banyak pengangguran? Apa yang salah? Gelar sarjananya? Atau perusahaannya? Atau bahkan universitasnya? Wah, kok saling nyalahin gini ya? Hihi.

Iseng searching di google muncul dari pikiran-rakyat.com kalau sarjana yang menganggur mencapai 630.000 pada tahun 2018. Angka ini cukup fantastis, iya?

Dari apa yang saya pelajari pendidikan strata satu ini adalah untuk meningkatkan daya pikir dan pola pikir. Kerasa banget ketika satu tahun menunda untuk nggak kuliah bergaul dengan anak kuliahan beda mindsetnya.

Sekali lagi siapa yang salah? Apa yang mesti diperbaiki?

 

Apakah Universitas Menjamin?

Dua hari terakhir aku menyaksikan proses interview para sarjana di ruangan marketing manager. Ya, kebetulan aku satu ruangan dengan marketing manager. Jadi, kalaupun cuek tetap saja terdengar. Hehe.

Mereka lulusan IPB, UGM, Budiluhur, Moestopo, UNPAK, dan masih banyak lagi. Yang intinya mereka adalah sarjana.

Setelah menyaksikan mereka menjawab beberapa pertanyaan timbullah kesimpulan versi ku. Kalau hal hal ini bisa membantu bahkan mendukung prosesnya interview.

Sehingga menurutku kita bisa jadi sarjana (yang saat ini masih kuliah) sebelum menjadi sarjana beneran (diwisuda). Kalau kita punya:

Pertama, wawasan yang luas.

Kedua, pengalaman yang banyak.

Ketiga, kecakapan komunikasi.

Orang nggak akan peduli kita kuliah dimana, apa jurusan kita, dan berapa IPK kita. Atau bahkan predikat apa yang pernah disandang oleh kita.

Tapi masyarakat bisa menilai bahkan memberikan gelar “sarjana” kalau punya wawasan luas, pengalaman yang banyak, dan keluwesan dalam berkomunikasi.

Jadi, apa unversitas menjamin? Belum tentu, tapi bila kamu jebolan PTN favorit yang memiliki value dan skill yang high, wah bisa dipertimbangkan.

 

Interview bersama Markering Manager

Dari pertanyaan yang sering diajukan oleh marketing manager di tempat perusahaan ku bekerja mengerucut menjadi tiga hal yang sudah aku singgung, yakni wawasan yang luas, pengalaman yang banyak, dan kecakapan komunikasi.

 

Wawasan yang Luas

Lalu, darimana masyarakat atau orang lain bisa menilai kita seorang sarjana kalau bukan salah satunya dari wawasan yang luas. Ini terlahir dari aktivitas suka membaca.

Apa jadinya kalau sarjana tak suka membaca? Ya, buntu, butek, keruh. Apapun itu namanya. Karena sumber ilmu berawal dari membaca. Kalau sekedar mendengarkan menjadi tak luas dan tak begitu meyakinkan.

Masyarakat nggak akan bertanya “mana ijazahmu, buktikan kalau kamu sarjana” nggak akan begitu. Tapi sejauh mana kita memiliki perspektif terhadap permasalahan yang sedang terjadi atau topik yang sedang dibahas. Itu saja dulu.

Ini bukan soal si pinter dan si bodoh. Karena wawasan itu sesuatu yang netral dan informatif. Bisa dibaca dimanapun sumbernya.

Jadi, andaikata belum diwisuda tapi berwawasan luas ketika interview kerja, sebenernya kamu sudah “sarjana”.

 

Pengalaman yang Banyak

Salah satu pertanyaan marketing manager “pengalaman kamu di sini (menyebutkan yang ada di CV) ngapain aja?”. Dari pertanyaan itu akan berhubungan dengan pekerjaan yang kamu lamar walau sebenernya persentasenya sedikit. Tapi tetap saja kalau ditanya pasti cerita kan?

Mumpung masih kuliah perbanyak pengalaman jangan dulu memikirkan dapat uang berapa, tapi dapat pembelajaran apa.

Aku selalu punya semangat dalam bekerja, apa itu? Kutipan ini:

“Gaji itu sementara, Pembelajaran itu selamanya”.

Kutipan ini terbentuk dalam benakku ketika aku menjalani pekerjaan besar namun dengan fee yang tak sebanding, tapi pada akhirnya? Sebentar lagi kita akan bahas ya.

Pengalaman itu bisa didapat dari ikut seminar, melakukan kesalahan, banyak bertanya kepada yang lebih berpengalaman.

Apalagi kalau kamu memiliki pengalaman yang relate dengan pekerjaan yang kamu lamar. Aku bisa prediksi kamu bisa dipertimbangkan.

“terus, kalau baru lulus gini gimana cara dapetin pengalamannya?”

Pertanyaan yang bagus…

Kamu bisa mulai intership sesuai bidang kamu. Kalau di komunikasi bisa intership di agency dan jangan dulu mikirin gaji.

Jangan terlalu idealis. Mentang-mentang S-1 udah layak dapet gaji gede. Eits entar dulu. Perusahaan juga milih milih lho.

Ada alasan kenapa di awal jangan mikirin gaji, khusus untuk yang masih S-1 ya atau baru mau nyari pengalaman bekerja.

Baca juga: 7 Kesalahan Fatal Freelancer Pemula

 

Kecakapan Komunikasi

Inget ya, di perusahaan itu nggak peduli kamu introvert atau ekstrovert. Kalau lagi interview pastikan kamu bisa menjawab dengan tenang dan woke. Maksudnya nggak kaku, menghindari menunduk ke bawah, dsb.

Hari ini aku lihat dua orang yang terlihat kontras dari keahlian komunikasinya. Yang satu gugup dan flat, yang satu lagi percaya dan pandai merangkai kata.

Ternyata setelah ditanya oleh marketing manager. Yang pandai menjawab ini udah punya pengalaman kerja. Kalau yang sebelumnya masih fresh graduate. Belum punya pengalaman kerja sama sekali. Tapi itu bukan masalah.

Kalau berwawasan luas dan pengalaman belum dimiliki bisa mulai dari cakap berkomunikasi. Karena ini penting sekali. Orang lain nggak kalau kamu bisa kalau cara berkomunikasi kamu nggak bagus saat interview.

Jangan sepelekan soal interview ini loh. Karena kalau terlihat gugup juga bisa ngaruh ke jawaban kamu. Alias bisa ngaco atau bahkan berdiam dengan cukup lama, seperti tadi. Udah kayak beratem. Diemnya lama banget. Haha.

 

Kenapa Sarjana masih banyak yang ngaggur? Pahami konsep ini.

Banyak sarjana yang pede kalau bakal diterima di tempat kerja dengan alasan IPKnya bagus, pengalaman organisasinya banyak, dan pernah menyandang predikat mahasiswa terbaik.

Semua anggapan itu gak bener. Karena konsepnya begini kawan-kawan. Perusahaan punya masalah yang harus segera diselesaikan. Kita adalah solusi. Kalau dari IPK, pengalaman organisasi sampe predikat itu bukan solusi ya jangan ngarep diterima. Paham?

Baca juga: Dunia Karier Semakin Nggak Pasti. Tapi Aku Ditawari Jadi Head of Digital Marketing

Ya, kalau kuliahnya sekedar memenuhi permintaan orangtua untuk jadi sarjana, ya mohon maaf gelar aja gak cukup. Karena dalam prosesnya kamu mesti menjadi solusi atas permasalahan perusahaan.

Salah satu bisa tercapainya solusi adalah kompetensi dan keahlian. Aku teringat Prof. Rhenald Kasali bilang di buku Disruption “sekarang itu bukan ditanya kamu lulus mana? Tapi kamu bisa apa?”.

Ya, kalau masih kuliah perbanyak pengalaman yang berujung jadi solusi untuk perusahaan. Misal sekarang banyak perusahaan yang membutuhkan digital marketing dan social media marketing. Ya pelajari itu hingga kamu layak menjadi solusi perusahaan.

Kuncinya jangan terlalu idealis, kadang mesti realistis. Kalau kamu sukanya di dunia marketing terus belajar digital marketing itu jauh lebih enak, bekerja sesuai yang disukai.

Aku pun berangkat dari sana, awalnya gak tau digital marketing, tapi karena belajar saat semester 1 sampe 5, ya alhamdulillah aku bisa bekerja di divisi digital marketing.

 

Mau kerja gaji langsung besar? Perhatikan ini

Ada beberapa mahasiswa fresh graduate melamar kerja langsung nego gaji besar padahal hanya bermodal nama universitas swasta ternama aja. Hehe. Aku hanya itu bukan kamu.

Agak gak mudah untuk perusahaan langsung percaya kepada fresh graduate yang belum punya pengalaman. Aku sempar singgung tadi di awal kenapa jangan menuntut gaji besar.

Ada yang namanya hukum kekekalan energi, dimana energi di alam semester sifatnya sama tak pernah berkurang dan bertambah semenjak energi itu diciptakan.

Energi itu hanya bisa dikonversi. Nah, kenapa aku tak muluk muluk ketika mengerjakan project dua jobs desk sekaligus tak menuntut gaji besar dan terus mengerjakan, karena sesungguhnya kita sedang menabung energi.

Contoh nih, ketika kamu dapet pekerjaan dengan gaji 2juta, tapi kinerja kamu 5 juta. Nah, 3 juta ini adalah energi yang kamu sedang tabung untuk masa depan.

Ke depannya ketika kamu tak lagi bekerja di perusahaan tersebut, tapi kamu udah banyak pengalaman. Gaji 5 juta itu bisa tercapai.

Jadi, sekarang lakukan yang terbaik dan terus belajar. Woke?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.