Dunia Karier Semakin Nggak Pasti. Tapi Aku Ditawari Jadi Head of Digital Marketing

Dunia Karier Semakin Nggak Pasti. Tapi Aku Ditawari Jadi Head of Digital Marketing

Sebelum aku mengenal dunia seperti sekarang, aku juga sempat mengkhawatirkan bagaimana nasib ke depan. Tapi kini aku tau bagaimana mengatasi kekhawatiranku.

Nggak terbayang sebelumnya bisa seperti sekarang, bahkan mendengar kata karier saja aku tak begitu paham dan terbayang seperti apa dunia karier itu.

Aku pikir kerja dan karier itu sama, nyatanya beda. Aku punya pemahaman tersendiri tentang kerja dan karier.

Sederhananya kalau kerja, belum tentu punya karier. Kalau karier sudah pasti bekerja. Gimana kebayang nggak?

Misal kalau bekerja di suatu perusahaan tapi hanya itu itu saja yang dikerjakan dan nggak wacana akan naik jabatan (bukan naik gaji lho ya). Bisa jadi kamu nggak sedang membangun karier.

Kalau karier ada sesuatu yang kamu harapan, salah satunya meningkat tanggungjawab dan otoritas kamu. Misal menjadi General Manager.

Kenyataannya yang mesti kamu ketahui jenjang karier untuk bisa tinggi itu mesti mengabdi agak lama dan panjang perjalanannya.

Kakakku sendiri dari business development menjadi HRD (Human Resources Development) tapi akhirnya tetap nggak bertahan juga di perusahaan itu. Walau sudah memberikan kinerja terbaik.

Hmm. Dunia Karier semakin nggak pasti. Seperti halnya harapan dia, duh! Terus membaca ya, karena kamu akan tau bagaimana aku menghadapi kekhawatiranku dalam dunia karier zaman sekarang.

Kalau sekedar berkerja memberikanmu pengalaman. Kalau berkarier memberikan lebih dari sekedar pengalaman, mulai dari nama baik, otoritas, serta gengsi.

Gimana nggak gengsi ketika resign dari perusahaan besar sudah menyandang Manager?

Sampai di sini kebayang, ya? bedanya kerja dengan karier.

apa gunanya kuliah
image source: unsplash.com

Apa Gunanya Kuliah?

Menunda kuliah bukan berarti nggak siap, justru mempersiapkan kuliah itu sendiri. Aku adalah orang mengalami GAP Year selama 1 tahun. Inginnya masuk fakultas psikologi Universitas Indonesia.

Namun nasib berkata berbeda, aku tak diizinkan untuk kuliah di sana. Setelah beberapa tahun kemudian, aku malah bersyukur kalau aku tak diizinkan di sana. Mungkin seandainya aku kuliah di sana, aku nggak akan seperti sekarang.

Sejak awal aku kuliah aku menetapkan tujuan akhir, karena aku mendapatkan pemahaman dari Adam Khoo dalam bukunya Secrets of Successful Teens. Kalau kuliah itu adalah cara bukan tujuan.

Kebanyakan dari siswa yang nggak diterima saat SNMPTN atau SBMPTN mendadak galau, karena menjadikan PTN favoritnya sebagai tujuan bukan cara.

Aku ingin jadi konsultan komunikasi. Aku memutuskan itu, dengan beberapa hal yang ku lihat dari diriku, tes bakat, dan mentorku.

Ya sudah, akhirnya aku memilih Ilmu Komunikasi (dengan konsentrasi Advertising) di Universitas Muhammadiyah Tangerang.

Selama satu tahun GAP Year aku gunakan waktu untuk belajar, menambah wawasan tentang apa yang akan ku pelajari di perkuliahan.

Ya, aku mulai membaca buku komunikasi milik kakakku, karena beliau memiliki minat di dunia komunikasi.

Lalu, apa gunanya kuliah?

Ya, kuliah berguna untuk menunjang profesi. Itu salah satunya. Namun ada hal yang lebih penting, yakni meningkatkan daya pikir dan pola pikir kamu.

Gimana? Apakah kamu sudah semakin yakin dengan jurusan yang kamu ambil? Aku harap iya.

Kalau belum, kamu punya kesempatan untuk menyatukan jurusan perkuliahan kamu dengan minat yang kamu miliki.

Misal minat di entrepreneur, tapi sekarang kuliah di agribisnis. Kamu bisa kembangkan tumbuhan hidroponik di kosan atau rumahmu dan hasilnya kamu jual.

6 Fondasi untuk Mahasiswa yang Siap Berkarier

Selama 3 tahun terakhir aku cukup merasakan perubahan yang signifikan dalam dunia karierku. Walau sebelumnya aku benar benar nggak tau seperti apa itu karier dan bagaimana aku harus menghadapinya.

Dulu, aku sangat khawatir bagaimana kalau aku nggak bersaing dengan lulusan terbaik di Indonesia. Karena saat itu aku tak tahu betapa pentingnya membangun relasi hingga memiliki keahlian khusus.

Hingga akhirnya apa yang selama ini aku lakukan dan perjuangkan bagian dari membangun dunia karierku. Aku ingin membagikan sebelum kamu bersaing dengan fresh graduate dari lulusan universitas terbaik yang ada di Indonesia.

Aku masih ingat ketika semester 3 yang dibawakan oleh dosen kece yang salah satu dari Penyiar Prambors, yakni Ilham Ramdana.

“kalian itu akan bersaing dengan lulusan komunikasi terbaik yang ada di Indonesia. Masa mau gini-gini aja”

Ketika itu ia sedang kesal karena hasil public speaking kami dalam mempresentasikan tugas kurang memuaskan.

Nah, gimana sudah mulai mikir, “wah gue mesti gimana nih?”. Tenang, aku akan membagikan 5 fondasi untuk kamu siap berkarier dan bersaing dengan mahasiswa lulusan terbaik.

Fondasi ini membantu kamu menjadi kompetitif dan menciptakan perubahan dalam dunia kariermu.

1. Sikap (Attitude)

Nggak banyak orang yang sadar kalau sikap itu memengaruhi sekali dalam hasil saat kamu berproses. Mulai dari bersikap proaktif (nggak menunggu perintah), kamu langsung mencari cara untuk mendapatkan solusi.

Kreatif dalam pememecahkan masalah. Terbuka menerima perubahan. Dan aku pribadi menjunjung tinggi sikap komunikatif dan keterbukaan. Agar bisa dipercaya oleh publik.

Gimana siap?

2. Kecakapan Komunikasi (Communication Skills)

Nggak sedikit mahasiswa yang sekedar masuk ruang dosen untuk bertanya atau mengkonfirmasi mesti diantar teman bahkan merasa malu.

Kamu butuh keahlian ini untuk membangun relasi. Masa sekedar ke ruang dosen saja malu. Bagaimana untuk membuka pembicaraan dengan orang baru?

3. Kuasai Keahlian Kamu (Mastering Your Skill)

Apa yang membuat seseorang dibayar mahal? Ya, keahlian yang dibangun bertahun-tahun.

Mumpung masih kuliah asahlah keahlian sejak awal (maksudnya sejak masuk kuliah atau sejak kamu membaca tulisan ini). Karena ini yang akan membentukmu di dunia karier.

Kalau kamu ingin bekerja jadi content writer. Mulailah menjadi freelance content writer, atau ikut kompetisi blog seperti hal-nya aku ini.

Aku bisa meniti karier dari kompetisi blog yang aku ikuti. Sebentar lagi aku akan bercerita bagaimana aku bisa ditawari menjadi head of digital marketing di salah satu perusahaan bimbel STAN terbesar dan terbaik di Indonesia.

Pilih satu keahlian yang kamu ingin dalami. Dengan begitu kamu akan menjadi bernilai dan berbeda di mata para perekrut.

Setuju? 😀

4. Tahu Tujuan (Know Outcome)

Masih ingat tujuan akhir setelah kuliah ngapain? Ya, konsultan komunikasi. Walau realitas yang terjadi, kadang semangag, kadang nggak. Tapi itulah proses yang mesti dijalani.

Sekarang sudah terasa menjalani sebagai konsultan, menangani klien. Walau belum besar, tapi cukup bebas dengan pekerjaan sebelumya.

Jadi, apa tujuan akhirmu?

5. Suka Belajar (Excited Learner)

Kalau nggak suka belajar, kamu nggak akan berkembang. Apa yang ku dapatkan sekarang adalah hasil pembelajaranku dua tahun lalu dan saat itu aku belum melihat hasilnya. Tapi aku terus mengulik apa yang ingin aku pelajari.

6. Membangun Relasi (Build Relationship)

“kalau ketemu orang jangan minta kerja, tapi bangunlah relasi. Minta kerja itu mental orang miskin, dan membangun relasi adalah mental orang kaya” – Bong Chandra

Kutipan itu dari kakakku. Entah itu benar atau nggak, yang jelas salah satu prinsip yang ku pegang teguh. Sejak 2015, aku mulai ikut komunitas dan menghadiri kopdar (kopi darat, sekedar bertemu dan membahas topik tertentu yang sesuai minat).

Mulai dari gratis, hingga aku berbayar aku ikuti. Selama biaya seminar itu terjangkau, aku ikuti. Tetap realistis juga ya!

Mulai dari tukar no. whatsapp, saling follow di Instagram, itu juga salah satu membangun relasi. Kamu bertanya tentang apa yang sedang difokuskan sekarang, begitu sebaliknya kamu bercerita tentang apa yang sedang kamu jalani saat ini.

image source: rawpixel with unsplash.com

3 Formula Mendapatkan Pekerjaan tanpa Apply

Tahun 2017 hingga memasuki awal tahun 2019 ini setidaknya aku mendapatkan pola yang berulang ketika mendapatkan pekerjaan idaman.

Kenapa aku katakan idaman, sebab apa yang ku lakukan nggak jauh dari pengalaman serta keahlian. Dari awal kuliah, aku selalu bilang kepada temanku.

“keahlian apa yang kamu mau kuasai?”

Tapi mereka cuek dan biasa saja. Wajar, saat itu jangankan prestasi, pekerjaan pun belum ada. Hanya penjual buku kuliahan. 😀

Tapi…

Awal tahun 2017 aku membuktikan kalau keahlian itu mampu mempermudah mendapatkan pekerjaan.

Sampai aku mendapatkan beasiswa dari kampus. Bagiku, ini wow banget. Karena belum pernah sebelumnya seperti ini.

Bekerja di startup clothing jadi digital marketing dan di startup travel jadi content marketing. Keduanya tanpa apply. Tanpa harus mengirim CV.

Gimana menarik membaca cerita selanjutnya?

1. Punya Hubungan Baik

Saat aku mendapatkan juara 4 lomba blog tentang digital marketing yang diselenggarakan oleh salah satu Digital Marketing Agency di Jakarta. Aku nggak pernah membayangkan kalau akhirnya aku mendapatkan apresiasi dari kampus.

image source: pribadi.

Ya, aku dibuatkan banner ini. Nggak lain, nggak bukan aku memiliki hubungan baik dengan kaprodi. Bukan berarti menjalin hubungan baik itu ada maunya, bukan itu! Melainkan menciptakan komunikasi yang efektif.

Seperti apa? Kalau ngobrol nyambung, memiliki kesamaan minat, lalu nggak berharap dibayar kalau diminta bantuan oleh dosen.

Kebanyakan dari kita terlalu hitungan, padahal kalau dari awal nggak berharap, dan kita niatkan untuk menambah pengalaman. Itu jauh lebih baik.

Lalu, dengan dosen mata kuliah. Aku juga punya hubungan baik, lagi-lagi ada kesamaan minat dan ketika ngobrol aku bisa memberikan solusi.

Mulailah menjalain hubungan baik dengan teman, dosen, teman di komunitas, atau bahkan di lingkungan sekitarmu.

2. Tunjukkan Saja, Tak Perlu Bercerita dan Kuasai Keahlian

Apakah kamu masih takut berteman atau saling follow dengan dosenmu di media sosial? Kalau “Ya” sudah saatnya kamu memberanikan diri untuk berteman di facebook dan saling follow di Instagram.

Nggak perlu menceritakan kalau kamu orang yang rajin, cekatan, mampu bekerja dengan tim. Nggak perlu diceritakan. Tapi tunjukkan saja.

Misal ketika aku mendapatkan juara blog, ya, aku upload saja. Toh, kami berteman. Mereka akan tau siapa aku. Nggak lupa juga antara media sosial dengan realita sebenarnya mesti relevan.

Jangan di media sosial anggun dan terlihat cerdas, tapi kenyataannya nggak begitu. Hmm.

Makanya penting banget untuk merapihkan portofolio kamu di media sosial, agar orang lain bisa memercayaimu. Sepakat?

Dan jangan lupa terus asah keahlianmu sehingga jadi pribadi yang tak tergantikan, alias hanya kamu yang bisa mengerjakannya.

3. Ketahui Apa yang Kamu Mau

Awal tahun 2017 aku punya keinginan yakni bisa bayar kuliah dari hasilku sendiri serta ganti laptop yang spesifikasi tinggi (karena kuliah konsentrasi advertising butuh spesifikasi untuk desain).

Alhamdulillah melalui juara 4 dari kompetisi blog jalan rezeki mulai terbuka, mulai dari beasiswa hingga bekerja di perusahaan startup clothing online.

Kalau laptop aku dapatkan dari kompetisi blog. Kalau kamu tau apa yang kamu inginkan dan ditopang oleh keahlian yang kamu miliki, kamu bisa mengontrol pekerjaan.

image source: unsplash.com

Ditawari Jadi Head of Digital Marketing

Agustus 2017 itu aku bekerja di startup clothing online selama 5 bulan. Kerjanya enak, kerja remote, tapi kuliah agak keteter, akhirnya resign. Di startup ini aku jadi Digital Marketing Strategist atas rekomendasi dari dosenku, Bu Ade Rahmah selaku dosen media massa saat itu.

Februari 2018 aku juga bekerja kembali di startup travel. Walau kebanyakan karyawan itu mesti ke kantor, aku bisa negosiasi untuk kerja remote dan diizinkan. Tapi karena ada hal lain. Aku kembali resign. Di sini aku jadi content marketing.

Mas Ican adalah direksi di startup itu. Aku kenal di seminar pada tahun 2016. See, kamu bisa lihat relasi itu berdampak nggak terjadi dalam jangka waktu dekat.

Dan rencananya 2019 ini aku ditawari Head of Digital Marketing di sebuah bimbel STAN yang namanya cukup terhosor dan cabangnya dimana-mana.

ssstt… jangan kepo sama gajinya. wkwk.

Mas Wahyu, begitu aku memanggilnya. Kami kenal sejak November 2015 di kopdar Pengusaha Kampus Regional Tangsel.

Karena dulu belum punya keahlian yang bisa dijual dan prestasi yang belum bisa memberikan kepercayaan di pubilk (calon klien).

Sebenernya dia ingin ketika aku lulus diminta untuk gabung di bimbel milik Mas Wahyu. Tapi mengingat ada target yang harus dicapai serta butuh sekali leader di bidang digital marketing.

Maka Mas Wahyu menawariku jadi Head of Digital Marketing di awal tahun. Walau tahun 2019, tahun skripsiku. WOW! Tantangan banget.

Apa yang menjadikan aku direkrut tanpa harus apply? Selain doa orangtua, juga keahlian, sikap, dan bagaimana aku menjalin relasi itu juga salah satu faktor.

Tawaran ini, sedang aku diskusikan dulu dengan mentorku, karena saat ini aku juga menjadi Digital Consultant di KadiKa Digital Consultant. Tapi yang jelas tawaran jadi Head of Digital Marketing sangatlah menarik!

Glints Selalu Tersedia untuk Kamu!

Aku follow Instagram @glints. Aku suka sekali konten-kontennya. Karena berisi banyak membahas tentang pekerjaan, cocok banget buat kita sebagai mahasiswa dan fresh graduate.

Bahkan aku sendiri pernah diberikan panggung untuk sharing online di posting @glints. Nggak nyangka bisa sharing di Instagram sekeren.

Aku tau Glints di Instagram, terus penasaran, terus buka websitenya. Dan COCOK! Ya, cocok banget buat kamu yang mau nambah pengalaman dan portofolio.

Soalnya di glints.com itu tempat kita nyari informasi magang (internship) hingga full time pun ada kalau keahlian dan pengalaman kita memenuhi syarat.

Dengan memiliki tagline “Discover Careers, Discover You”. Glints.com ini keren banget saat kamu pertama kali daftar, profil LinkedIn kamu diminta buat jadi PDF, jadi profil kamu autocomplete. Kalau mau apply jadi gampang banget.

kontennya ngena banget. kadang aku save supaya bisa inget lagi.

Glints Marketplace Lowongan Kerja Terbaik di Indonesia. Kalau temen kamu bertanya “ada info loker gak?” Terus kamu nggak tau, ya, mending ke Glints.com aja, yang selalu tersedia untuk kamu!

So, sekarang kamu nggak perlu lagi khawatir menghadapi karier yang nggak pasti. Selama kita punya keahlian dan good communication, aku yakin kamu mendapatkan pekerjaan yang layak!

Kamu Boleh Lupa Apa yang Kamu Barusan Baca, Tapi Jangan Lupakan Ini!

Berhentilah beralasan dan mencari pembenaran:

  1. “Ah masih kuliah, santai saja”
  2. “Ah gak bisa fokus kerja, ke ganggu kuliah”
  3. “Wajar aja belum sukses, masih kuliah kok”
  4. “Nanti aja kerjanya kalau udah selesai wisuda, biar fokus”

Dan masih banyak lagi alibi untuk menghindari “rasa sakit”. Sebenernya kita itu bukan nggak bisa fokus tapi kita belum siap menerima rasa sakit untuk bertumbuh (growth).

Aku sadar ketika aku pertama kali bekerja di perusahaan startup clothing online, agak menyesuaikan dengan waktu kuliah. Pusing, nggak fokus, tapi setelah bisa melewatinya malah terasa ringan.

Kalau kata mentorku, ini tandanya naik level. Inget! Setelah kuliah, kamu nggak bisa leha-leha lagi. Kamu mesti bisa fokus ke perkembangan karier. Yuk mulai sekarang bangun keahlian terbaikmu![]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.