Representasi Internal.



Hmm. Sesuai niat saya malam ini kita akan belajar salah satu materi dari NLP. Yakni Representasi Internal. Atau bisa disingkat rap system. Representasi internal semua orang punya bagian ini. Hanya saja mereka belum tau cara memaksimalkannya.

Representasi internal itu meliputi Visual, Audiotorial, Kinestetik, Olfaktori, Gustatori. Bila disingkat menjadi VAKOG. Nah terkadang ini yang membuat kita dengan lawan bicara kita agak tidak nyambung saat ngobrol atau diskusi.

Perbedaan representasi internal, bisa memicu kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Contohnya, ada dua mahasiswa yang berbeda latar belakangnya. Yang pertama dari kampung, yang kedua dari kota. Ketika mereka ingin makan siang. Pastinya yang dari kampung memilih makan di warteg, namun yang dari kota menginginkan makan di restoran. Padahal sama sama ingin makan, tapi menampilkan model dunia dalam benak mereka jelas berbeda.

Maka dari itulah kenapa kita terkadang jarang mengerti apa yang dimaksud lawan bicara kita. Misalnya.

“lu itu keliatannya pake baju itu jadul deh”

“ah masa? Gue rasa biasa aja tuh”

“lu gak bisa bedain mana yang bagus, mana yang jelek

“Ah gue mah yang penting nyaman

Nah itulah perbedaan representasi internal seseorang. Ada yang menampilkan gambar dalam benaknya, ada yang menghadirkan suara suara, ada juga merasakan sensasi, pengecapan, dan sentuhan.

Kalau kita belum sadar akan hal ini. Biasanya akan terjadai perdebatan lhoo. Seperti percakapan di atas. Maksudnya sih baik. Supaya temannya lebih modis, dan terlihat tidak jadul.

Coba deh perhatikan percakapan ini.

“wah, kurang pas deh baju itu kalau lu pake!”

“ah masa? Hmm. Iyah juga sih. Gue ganti yang pas dulu yah!”

“nah gitu kan nyaman gue ngerasainnya”

“hmm. Gue sip dah”

Tak ada penolakan. Karena satu predikat. Satu kanal, yakni kinestetik. Hmm. Makanya kalau kita tidak ngertiin maksud oranglain. Tinggal menggunakan pacing-leading saja. Kita ikutin saja apa yang lawan bicara kita lakukan dari pola nafas, gerak tubuh, nada suara. Nah, setelah itu barulah kita pimpin (leading)pembicaraan.

Nah, makanya jangan marah. Karena setiap orang punya peta dunia masing masing. Mungkin saja kamu membicarakan peta indonesia, tapi lawan biaca kamu membicarakan peta inggris. Hmm. Lalu bagaimana memahaminya? Ya sederhana. Milikilah peta dunia. Artinya pahami dulu maunya apa. Barulah ajak ke pembicaraan kita.

Nah kalau saya katakan “Perempuan” apa yang hadir dalam benak kalian? Pastinya berbeda. Ada yang menampilkan bayangan perempuan kantoran, ustadzah, anak sekolah, ah macam macamlah. Nah kalau sudah begini. Kita akan bisa memahami oranglain secara gamblang.


Kesimpulannya. Jangan memaksakan kehendak, karena setiap orang punya representasi internal yang berbeda. Dan jangan paksakan oranglain untuk bisa mengertikan kamu sebelum bisa nyambung dalam pembicaraan. Sederhana kan?. []

Adalah Seorang Pemuda yang memiliki keinginan tahu yang tinggi. Sehingga kegemarannya dalam mengutak ngatik, kini Ia salurkan ke Dunia Teknologi Informasi. Disamping itu, Ia juga suka akan dunia Pengembangan Diri dan Bisnis. dan Kini Ia menjadi Seorang Mahasiswa Ilmu Komunikasi di salah satu Universitas Swasta di kota Tangerang.

Previous
Next Post »
0 Komentar